Duhai diri: Laa takhaf, wa laa tahzan

Sejak dua bulan lalu, saya banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Pulangnya saya ke Banda Aceh untuk mensyukuri nikmat Allah, yang dengan kehendak-Nya, membuat saya bisa berkumpul bersama keluarga pada minggu ketiga bulan Ramadhan sampai minggu kedua di bulan Juni.

Ramadhan adalah bulan favorit saya, maka nggak habis-habis saya berpikir betapa saya harus banyak mensyukuri nikmat Allah yang satu ini: ya, di bulan favorit, berkumpul dengan orang-orang favorit, di tempat favorit, dalam suasana yang favorit pula.

Selama berada di rumah, seringnya saya ingin menangis saking bersyukurnya. Bisa (setidaknya mencoba membantu) meringankan pekerjaan rumah yang selama ini Mamak lakukan sendiri, bisa (setidaknya mencoba) membantu kesulitan-kesulitan Ayah yang terkait dengan laptop dan dokumen-dokumen beliau, bisa banyak berbicara dengan Ainal secara langsung. Duh… Rasa ingin menangis itu nggak cuma menyiratkan rasa syukur, tapi juga rasa haru sekaligus rasa takut.

Continue reading “Duhai diri: Laa takhaf, wa laa tahzan”

Advertisements

Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.

Roda iyo baputa, tibo di awak, pacah ban!

Saya sering sekali melihat, atau mendengar “pepatah” ini pada akun media sosial teman, yang rata-rata berasal dari kampung yang sama dengan saya: Aceh Selatan. Dari segi bahasa saja, bisa lah ditebak kalau pepatah itu kerap kali diucapkan oleh suku Aneuk Jamee, yang memang, bahasa daerah mereka agak-agak mirip dengan bahasa Minang.

Awalnya, meskipun tahu arti dari Aneuk Jamee proverb —yah sebut saja begitu– saya malah nggak faham apa maknanya. Kalau diartikan, kurang lebih begini artinya : Roda sih iya muter, tapi pas sama gue, bukannya muter eh malah pecah!

Tapi sekarang… saya tahu makna dibalik satu kalimat itu. Continue reading “Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.”