Tentang target membaca lima buku tahun ini.

Dulu: Membeli buku tidak direncanakan. Ketika pergi ke Toko Buku, selalu berpikir untuk membeli (minimal satu) buku. Pemilihan bukunya pun hanya didasarkan pada dua: cover buku yang menarik atau penulis yang sudah punya nama. Kalaupun tidak ke Toko Buku (dalam artian membeli buku secara online), pastilah keinginan membeli itu muncul setelah melihat lingkungan sekitar yang heboh membicarakan satu judul buku atau melihat update-an dari penulis-penulis favorit.

Teori ini ternyata berdampak pada pembelian buku-buku yang sebenarnya “tidak perlu”, which is termasuk dalam perilaku konsumtif juga kan? Ada satu waktu dimana saya menyadari betapa banyaknya buku yang sudah saya miliki. Buku-buku itu berjejer di meja belajar, yang saking banyaknya, membuat meja belajar saya tidak lurus lagi di bagian tengahnya. Tapi… dari sekian buku yang menghiasi meja belajar itu, hanya 2~3 buku mungkin yang benar-benar saya baca sampai tamat. Selebihnya? Tersentuh pun mungkin tidak pernah. Menyadari hal ini, saya jadi berpikir: apakah saya ini benar-benar suka membaca, atau hanya senang mengoleksi buku saja (seperti tokoh Alaska pada novel Looking for Alaska-nya John Green)?

Dengan menanyakan kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas, maka di akhir tahun kemarin saya memutuskan untuk lebih wise dalam membaca dan memilih bacaan.

Kalau sebelumnya membaca hanyalah sebatas kegiatan yang saya lakukan ketika memiliki waktu luang, saya ingin di tahun ini membaca memiliki porsi waktunya sendiri. Kalau sebelumnya saya memiliki prinsip seperti Alaska, yaitu ‘beli sebanyak-banyaknya buku, jangan pikirkan apakah buku-buku tersebut akan bisa kamu baca semua atau tidak. yang penting beli saja dulu bukunya’. Di tahun ini saya ingin membeli buku dengan mempertimbangkan banyak hal terlebih dulu. Kalau sebelumnya saya tidak pernah ambil pusing dengan cerita apa yang ada pada buku yang sedang saya baca, di tahun ini saya ingin buku-buku yang saya baca memberikan kesan mendalam, memberikan saya wawasan baru, dan membuka pemikiran saya pada hal yang lebih baik.

Maka, target (minimal) lima buku di tahun ini adalah langkah awal yang saya set.

Alhamdulillah, target ini berhasil saya capai (dengan izin Allah, tentunya) di bulan Mei kemarin. Pada postingan kali ini, saya ingin sekedar sharing beberapa langkah yang bisa kita lakukan supaya bisa lebih wise lagi dalam membaca dan memilih bacaan. Continue reading “Tentang target membaca lima buku tahun ini.”

Advertisements

Lingkaran cinta itu bernama halaqah.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sekitar tahun 2016 awal, ketika memilih resign dari kerjaan sebelumnya untuk mempersiapkan ujian masuk ITB–walaupun gagal juga tetep hehe, saya memiliki banyak waktu luang. Anehnya, tidak seperti kebanyakan orang lain yang mengeluh karena merasa tidak produktif saat memiliki banyak waktu luang, saya malah merasa sebaliknya. Di mata orang mungkin saya melakukan hal-hal yang tidak produktif, tapi saya senang karena bisa memberikan healing moment untuk diri sendiri yang (entah kenapa) selalu merasa tertekan sejak lulus kuliah. Saking terlalu banyaknya waktu luang, saya pun mulai terpikir untuk ikut liqo’ lagi. Entah apa yang mendorong saya sebegitu kuatnya sampai-sampai tanpa pikir panjang lagi saya langsung menghubungi murabbiah saya dulu, namanya Kak Ulil. Sayangnya, Kak Ulil sudah tidak menetap di Banda Aceh lagi. Kak Ulil sudah memiliki pekerjaan sebagai dosen di suatu perguruan tinggi yang saya lupa nama dan tempatnya dimana.

Saat itu, saya berpikir akan begitu awkward kalau saya menjadi “pendatang baru” pada sebuah kelompok liqo‘ yang sudah berjalan. Dimana isinya adalah orang-orang yang tidak saya kenal, termasuk murabbiah-nya nanti. Kak Ulil sudah memberikan kontak murabbiah saya yang baru, tapi saya masih ragu untuk menghubunginya karena pemikiran-pemikiran ini. Tapi, lagi-lagi, entah apa yang mendorong diri ini dengan begitu kuat, sampai-sampai bisa melawan diri sendiri. Saya pun menghubungi murabbiah baru saya itu, namanya Kak Cut. Continue reading “Lingkaran cinta itu bernama halaqah.”

Antara Marie Kondo, KonMari Method, dan The Life-changing Magic of Tidying Up

Awal mula kenapa bisa tertarik baca buku ini adalah semenjak nama Marie Kondo makin dikenal banyak orang. Saya berpikir, “Bukankah KonMari itu sudah cukup lama? Kenapa baru booming sekarang?”, sambil berusaha mengingat-ingat kapan persisnya saya tahu soal KonMari Method. Sepertinya tahun 2016, tepatnya saat melihat postingan seorang Kakak Leting di akun Instagramnya, yang tengah memperlihatkan hasil penataan pakaian di lemarinya dengan menggunakan KonMari method ini. Tapi memang, mungkin pada saat itu KonMari hanya terkenal sebatas “teknik melipat (pakaian)”. Padahal jauh daripada itu, ada banyak sekali teknik yang digagas oleh Marie Kondo perihal berbenah. Dan itu semua dia rangkum pada sebuah buku yang diberi judul The Life-changing Magic of Tidying Up.
 
IMG_20190203_220751[1]
 
 

Continue reading “Antara Marie Kondo, KonMari Method, dan The Life-changing Magic of Tidying Up”