Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)

Orang bilang, Bandung tidak sedingin dulu lagi.

Tapi, ketika waktu Subuh datang, dimana udara pagi saat itu masih segar-segarnya–belum tercemar oleh asap kendaraan bermotor, Bandung tetap saja terasa dingin. Saya rasa ini pun berlaku untuk seluruh daerah. Daerah dengan suhu yang lebih tinggi sekalipun, seperti Aceh. Makanya, sebagai pecinta cuaca dingin, saya sangat mengagumi waktu Subuh.

Alhamdulillaah, walau semalam saya larut berjam-jam dalam obrolan (nostalgia) bersama Nia dan Vera, saya masih diberikan kesempatan oleh Allaah SWT untuk bangun di kala Subuh menyapa. Karena hanya saya saja yang pada saat itu tidak berhalangan untuk shalat, maka saya langsung bergegas ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Segar. Sejuk. Menenangkan. Saya shalat, lalu setelahnya, saya termenung. Rasanya, masih belum percaya saja kalau akhirnya saya benar-benar kembali ke kota ini.

Bandung.

Eh, tapi, ini memang benar adanya. Memang nyata. Continue reading “Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)”

Advertisements

Bandung; The Feeling of The First Love (Day I)

img_20170122_1530151

Masih ingat di memori saya, sekitar sembilan tahun yang lalu, saya menangis hebat meninggalkan kota ini. Dengan earphone yang terus melantunkan lagu-lagu sedih, air mata saya terus mengalir… dan mungkin, itulah yang membuat Abang saya–yang waktu itu duduk tepat di samping saya–keheranan. Mungkin dia pikir, “Kenapa harus sesedih itu?” atau “Sesedih itukah?” atau justru “Lebay amat ini anak”. Tapi, saya seolah nggak peduli dengan pemikiran orang lain. Yang saya tahu, saya sedih, sedih sekali… meninggalkan kota tempat saya bertumbuh dan berkembang menjadi remaja tanggung.

Bandung.

Masih ingat juga di memori saya, betapa saya tidak mau berdamai sedetik pun dengan keadaan. Istilahnya, baiklah, mungkin raga saya pada saat itu berada di tempat baru sepenuhnya, tapi di sisi lain, jiwa saya tidak disitu. Karena yang saya pikirkan, hanya Bandung, Bandung, dan Bandung. Saya sibuk mengecek keadaan teman-teman saya di Bandung melalui akun-akun jejaring sosial mereka. Saya sibuk menelepon mereka. Mata saya tidak pernah lepas dari handphone–bahkan sampai larut malam sekalipun–hanya untuk mengecek apakah pesan singkat saya di Yahoo Messenger sudah mereka balas atau belum.

Dan masih ingat di memori saya, dimana kala itu, saya benar-benar memperjuangkan kebebasan saya untuk kembali ke Bandung. Ketika saya lulus SMA, saya meminta izin Mama untuk melanjutkan kuliah kembali ke Bandung. Namun, Mama bilang tidak. Campur aduk rasanya. Sedih, ingin memberontak, tapi apa daya? Saya tidak punya kemampuan untuk memberontak.

Setersiksa itukah? Mungkin tidak. Hanya saja, saya, dan pemikiran saya, sifat saya, serta semua yang ada pada diri saya ini terlalu naif. Dan mungkin, saking naifnya, sampai-sampai membuat Ayah saya (mungkin) merasa kasihan, lantas beliau mengiming-imingi saya dengan janji manis seperti “Kita akan ke Bandung setelah Kakak lulus kuliah”.

Hanya saja, saya dan Bandung itu bagai dua hal yang memang tidak meant to be. Ada saja yang membuat saya gagal untuk kembali ke Bandung. Pernah, saya ingat, suatu kali, Ayah sudah merencanakan bahwa kami sekeluarga akan pergi ke Bandung untuk menghadiri wisuda Abang. Semua sudah okay–sudah sedikit ada harapan bagi saya untuk kembali bertemu dengan kota kesayangan itu. Tapi, tiba-tiba… salah seorang dosen mengadakan ujian di hari yang awalnya akan menjadi hari keberangkatan saya dan keluarga ke Bandung. Terpaksa, dengan-sangat-terpaksa-sekali, saya harus rela untuk ditinggal Ayah, Mama, dan Adek. Mirisnya, ketika saya sudah mengorbankan hari yang saya nanti-nanti itu, sang dosen malah membatalkan agenda ujian.

Saya dan Bandung memang tidak akan pernah bertemu.

Saya pun tidak tahu sebenarnya apa sih yang membuat saya begitu ingin kembali ke Bandung? Kalau ada yang bertanya, saya benar-benar tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Lagipula, ketika saya pulang, belum tentu akan ada yang mau menemui saya. Jangankan ada yang mau, bahkan untuk taraf mengingat saya saja, mungkin tidak ada.

=====================================================================

“Mut, kamu ngerasa sedih nggak sih, kalau ke Bandung tuh?”

Continue reading “Bandung; The Feeling of The First Love (Day I)”

Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part II)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bersambung dari part sebelumnya, untuk part ke-II ini saya akan mencoba menuliskan materi-materi apa saja yang disampaikan pada sesi kedua, yang dimulai sekitar pukul 09.45 WIB. Yang menjadi pemateri untuk sesi kedua ini adalah Muzammil Hasballaah, seorang pemuda yang baru-baru ini viral di media sosial karena kemampuannya dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Continue reading “Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part II)”

Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part I)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Akhirnya, setelah sekian lama muncul lalu menghilang, kali ini saya muncul lagi untuk menge-share apa yang sudah saya dapat hari ini, setelah mengikuti kegiatan Seminar Al-Qur’an: Al-Qur’an-mu “Last Seen”-nya Kapan? di Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Kegiatan seminar ini diisi oleh dua pemateri utama, yaitu Ustadz Dr. Haikal Hassan dan Muzammil Hasballaah, S.T. Sesi pertama dimulai pukul 08.45 WIB. Saya ingat betul waktu tersebut karena Ustadz Dr. Haikal Hassan sudah meminta izin duluan untuk memberikan materi selama 30 menit, berhubung beliau juga memiliki agenda untuk mengisi kajian di Surabaya. Seperti apakah materi singkat namun menarik dan berkesan yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Haikal Hassan ini? In syaa Allaah berikut saya tuliskan ulang apa saja yang beliau sampaikan.

“Warisan Abadi Nabi Muhammad SAW: Kapan Terakhir Bergaul Dengannya?”

–Ustadz Dr. Haikal Hassan Continue reading “Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part I)”

Belajar dari Mama

Sebenarnya, sudah lama ingin membagikan cerita ini. Yah… walaupun nggak ada yang peduli juga, nggak bakal ada yang baca, tapi… mengingat sebuah update-an status seorang teman, dimana dia juga mengutip perkataan orang lain, kurang lebih seperti ini: “Kita nggak tahu di titik mana kita akan menginspirasi orang lain, maka teruslah berkarya”, maka saya rasa nggak ada salahnya saya membagikan cerita ini.

Jadi, ceritanya, bulan Ramadhan kemarin (nggak kemarin dalam arti kata yang sebenarnya, haha), saya dan keluarga ikut perjalanan bisnis (kalau pakai kata bisnis, seolah tinggi sekali maknanya. Jadi biar nggak salah paham, bisnis Ayah disini adalah bisnis dirinya sebagai seorang distributor pupuk) Ayah ke Medan. Namanya juga ikut perjalanan bisnis, jadi kami memang nggak berharap banyak akan dibawa jalan-jalan. Jadilah, pada pagi itu, saya, Mama, dan Adek berdiam diri di tempat menginap, di Mess Pemda Aceh.

Selang beberapa jam, handphone Mama berdering, memecah kesunyian—atau lebih tepatnya kesuntukkan kami bertiga. Saya meraih handphone Mama, melihat sebentar siapa yang menelepon, lalu memberikannya kepada Mama. Adalah Cik Lili, adik sepupu Mama, yang menelepon.

Sedikit cerita tentang Mama dan Cik Lili, keduanya sangat sangat akrab. Sudah seperti kakak adik kandung saja. Mama dan Cik Lili memang sering curhat-curhatan walau sebatas via telepon. Kalau sudah bercakap-cakap, bisa sampai berjam-jam.

Dan pagi itu, saya mencuri-dengar pembicaraan mereka. Nggak jelas juga awalnya apa, tapi tiba-tiba pembicaraan mereka tertuju pada topik kuliah. Dan mereka membicarakan saya.

Mungkin, Cik Lili saat itu bertanya, “Bakpo Tia, niang? Alah ditarimo inyo kuliah? Dimano?”. Yang artinya, “Bagaimana si Tia, kak? Apa sudah diterima dia kuliah? Dimana?”

Sehingga Mama pun membalas, “Balun lai, Li. Kapatang alah pengumuman ITB, nakdo lewat. Disuruh tes lai inyo, gelombang kadua ko. Kini ko pun tangah mananti pengumuman IPB, ya mudah-mudahan lah Li, lewat inyo di IPB ko”. Yang artinya, “Belom lagi, Li. Kemarin sudah pengumuman ITB, tapi nggak lewat. Disuruh ikut tes lagi dia, gelombang kedua ini. Sekarang pun lagi nunggu pengumuman yang dari IPB, ya mudah-mudahan lah Li, lewat dia di IPB”

Kemudian pembicaraan mereka terus berlanjut. Berlanjut, kepada cerita masa lalu Mama yang ternyata juga mengincar IPB sebagai tempat ia melanjutkan pendidikan selepas lulus SMA.

Mama bercerita, dulu, selepas SMA, seorang guru menawarkannya untuk melanjutkan kuliah ke IPB. Guru tersebut bahkan bilang, “Ambo bantu kau, Pa. Bek ko, kau les jok ambo”, alias, “Saya bantu kamu, Pa. Nanti kamu les sama saya”.

Continue reading “Belajar dari Mama”

Brownies for Vegan

Setelah postingan sebelumnya agak-agak mellow, menye-menye, dan mostly isinya curhatan yang random banget, maka kali ini saya akan posting sesuatu.

Brownies for Vegan.

Saya mau berbagi pengalaman saya dalam membuat brownies yang cocok buat dimakan oleh siapa saja–yang vegan saja bisa makan, apalagi yang nggak vegan. 

Tapi, tunggu. Apa sih vegan itu?

Vegan, sejauh yang saya tahu, adalah orang yang ogah mengkonsumsi produk hewani dalam bentuk apapun. Mereka nggak makan daging, nggak makan ikan, bahkan… mereka nggak mau pakai jaket dari kulit hewan. Sampai segitunya, ya? Iya, memang sampai segitunya.

Menarik ya kayanya membahas soal vegan dan gaya hidupnya? Saya pribadi sih tertarik banget, in syaa Allah saya akan bikin postingan terpisah untuk membahas soal itu.

Tapi sekarang, saya cuma mau berbagi cerita atau pengalaman saya dalam membuat brownies yang bisa dikonsumsi juga oleh para vegans. Kenapa? Karena brownies ini dibuat tanpa menggunakan bahan-bahan yang berasal dari hewan, seperti: telur, susu, dan lain sebagainya. Dan.. ah iya, resepnya terinspirasi dari resep Chef Farah Quinn yang saya ulik sedikit supaya gluten free (apalagi ini? Hahaha. Mau makan aja kok repot ya? Iya saya mah gitu orangnya, mau makan tapi poin sehatnya harus tetep dapet :p). Continue reading “Brownies for Vegan”

Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.

Roda iyo baputa, tibo di awak, pacah ban!

Saya sering sekali melihat, atau mendengar “pepatah” ini pada akun media sosial teman, yang rata-rata berasal dari kampung yang sama dengan saya: Aceh Selatan. Dari segi bahasa saja, bisa lah ditebak kalau pepatah itu kerap kali diucapkan oleh suku Aneuk Jamee, yang memang, bahasa daerah mereka agak-agak mirip dengan bahasa Minang.

Awalnya, meskipun tahu arti dari Aneuk Jamee proverb —yah sebut saja begitu– saya malah nggak faham apa maknanya. Kalau diartikan, kurang lebih begini artinya : Roda sih iya muter, tapi pas sama gue, bukannya muter eh malah pecah!

Tapi sekarang… saya tahu makna dibalik satu kalimat itu. Continue reading “Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.”