Lingkaran cinta itu bernama halaqah.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sekitar tahun 2016 awal, ketika memilih resign dari kerjaan sebelumnya untuk mempersiapkan ujian masuk ITB–walaupun gagal juga tetep hehe, saya memiliki banyak waktu luang. Anehnya, tidak seperti kebanyakan orang lain yang mengeluh karena merasa tidak produktif saat memiliki banyak waktu luang, saya malah merasa sebaliknya. Di mata orang mungkin saya melakukan hal-hal yang tidak produktif, tapi saya senang karena bisa memberikan healing moment untuk diri sendiri yang (entah kenapa) selalu merasa tertekan sejak lulus kuliah. Saking terlalu banyaknya waktu luang, saya pun mulai terpikir untuk ikut liqo’ lagi. Entah apa yang mendorong saya sebegitu kuatnya sampai-sampai tanpa pikir panjang lagi saya langsung menghubungi murabbiah saya dulu, namanya Kak Ulil. Sayangnya, Kak Ulil sudah tidak menetap di Banda Aceh lagi. Kak Ulil sudah memiliki pekerjaan sebagai dosen di suatu perguruan tinggi yang saya lupa nama dan tempatnya dimana.

Saat itu, saya berpikir akan begitu awkward kalau saya menjadi “pendatang baru” pada sebuah kelompok liqo‘ yang sudah berjalan. Dimana isinya adalah orang-orang yang tidak saya kenal, termasuk murabbiah-nya nanti. Kak Ulil sudah memberikan kontak murabbiah saya yang baru, tapi saya masih ragu untuk menghubunginya karena pemikiran-pemikiran ini. Tapi, lagi-lagi, entah apa yang mendorong diri ini dengan begitu kuat, sampai-sampai bisa melawan diri sendiri. Saya pun menghubungi murabbiah baru saya itu, namanya Kak Cut.

Jadwal liqo’ sudah ditentukan, Kak Cut bertanya kepada saya apakah saya bisa hadir di jadwal itu. Begitu saya melihat kalau jadwal liqo‘-nya adalah hari Minggu, lagi-lagi batin saya mengalami pergulatan hebat. Kok Minggu sih. Padahal kan, udah dikhususin biar Minggu itu full di rumah–padahal setiap hari juga saya di rumah ehehehe 😀 Tapi setelah mendengar penjelasan dari Kak Cut kalau salah satu anggota liqo‘ ada yang masih berstatuskan pelajar SMA, maka saya pun mencoba menerimanya. Walau berat.

Ternyata memang benar ya, akan ada banyak hal yang syaithan kerahkan supaya kita membatalkan niat-niat baik kita. Syaithan disini bisa dari kalangan jin, bisa dari kalangan manusia. Malah dulu saya sempat berpikir, jangan-jangan diri saya sendirilah syaithan-nya! Hehehe. Soalnya saya merasa, ya Allah, kok susah banget rasanya mau liqo’ doang.

Apalagi kalau mengingat pertemuan pertama saya dengan Kak Cut yang sangat-sangat awkward. Saya yang (bisa dibilang) jarang sekali bisa datang ontime kalau janjian, sekarang bisa datang 15 menit dari jadwal liqo’ yang sudah ditentukan. Pada saat itu, tempat liqo’ kami adalah di rumah Kak Cut. Begitu saya datang, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada seorang kakek duduk di teras rumah, kemudian saya bertanya, “Kak Cut-nya ada, Pak?”–untuk memastikan saya tidak salah alamat. Dan Alhamdulillah ternyata benar itu rumah Kak Cut. Saya dipersilakan masuk, dijamu dengan sangat ramah, dan ngobrol sedikit dengan Kak Cut walau kami berdua masih sangat awkward satu sama lain.

Tidak lama kemudian barulah satu persatu teman-teman kelompok liqo’ yang lain datang. Ketika anggotanya sudah cukup banyak, Kak Cut memilih untuk membuka liqo’. Tapi sebelumnya, Kak Cut bertanya pada salah seorang anggota liqo’, “Si A kemana? Kok belum datang? Ada kabar?”

“Dia motornya rusak, Kak”, begitu jawaban yang saya dengar.

Kak Cut menghela napas, raut wajahnya berubah menjadi serius.

“Kalau motornya rusak kan, bisa naik labi-labi (angkot). Kalau misal dibilang jauh, diantara kita ada juga yang datang dari Indrapuri. Itu kan jauh juga, lebih jauh dari rumah dia”

Tepat pada saat itu juga saya langsung nervous. Belum apa-apa kok rasanya sudah ada nuansa nggak enak begini ya. Bahkan sempat terpikir, Kayanya nggak usah liqo’ aja deh, nunggu Kak Ulil balik lagi ke Banda Aceh aja. Serem juga kalau murabbiah-nya begini. Tapi kemudian, siapa sangka, ucapan Kak Cut berikutnya benar-benar menghujam diri ini. Diri ini merasa ditampar berulang kali.

“Ketika kita sudah berkomitmen akan suatu hal, itu tandanya kita sudah harus siap akan segala sesuatunya. Kalian, sudah berkomitmen untuk mau belajar bersama-sama dalam kelompok halaqah kita ini, berarti kalian sudah harus siap juga. Kalian harus kosongkan jadwal kalian di hari Minggu jam 9, kalian udah harus siap bahkan mungkin dari sehari sebelumnya. Yang naik motor, dicek keadaan motornya, jadi kalaupun motornya nggak bisa dipakai, kita sudah tahu harus pergi jam berapa dari rumah supaya gimana caranya nggak telat lah. Ini maaf ya, kakak nggak marah. Kakak cuma ingin bilang kalau penting kali kita luruskan niat. Jangan karena motor rusak dikit, kita langsung batal liqo‘. Jangan karena kawan nggak pergi, kita juga nggak pergi. Jangan karena murabbiah-nya terkesan galak kayak kakak ini, lantas kalian batal ikutan liqo’. Dan jangan pula kalau suatu saat murabbiah-nya bukan kakak lagi, kalian jadi kendor. Semua harus diniatkan karena Allah SWT. Apa tujuan kalian ketika kalian memutuskan kepingin liqo‘. Coba ingat-ingat lagi. Kalian pegang terus tujuan awal kalian. Karena gampang kali bagi syaithan membuat hati kita jadi terbolak-balik”

Kira-kira begitulah yang Kak Cut bilang. Semenjak saat itu juga, Alhamdulillah Allah kasih saya berbagai kemudahan untuk menerima perkataan-perkataan Kak Cut pada saat liqo‘. Sosok Kak Cut yang tegas, ketika menyampaikan materi liqo’, nggak jarang membuat hati saya terenyuh dan mata saya berkaca-kaca. Alhamdulillahnya juga, Kak Cut itu nggak melepas kami–adik-adik liqo’-nya–begitu saja. Kami diajak ikutan grup WhatsApp untuk menghapal satu ayat setiap harinya, kami juga diajak ikutan acara Tarhib Ramadhan (dan pada saat itu juga saya baru tahu apa itu markaz dakwah hehehe)… MaasyaaAllah. Semoga Allah selalu menjaga Kak Cut :’)

Menuliskan ini sebenarnya untuk menstimulasi hati yang seringnya merasa futur dan lalai. Tidak ada kaitan isi postingan dengan judul memang, tidak sistematis juga bagaimana cerita dalam postingan ini dituliskan… postingan ini memang hanya berisi kerinduan akan sosok murabbiah kami–Kak Cut–dan kesadaran diri bahwa ternyata dakwah yang tegas tidak seburuk yang orang-orang pikirkan.

Dakwah yang penyampaiannya keras dan tegas seringkali dinilai radikal. Padahal, saya bukti nyata yang merasakan sendiri bahwa terkadang dakwah yang seperti itulah yang diperlukan oleh diri (meskipun ahsan-nya memang penyampaian yang lembut). Ketika saya ingat-ingat perjalanan liqo’ saya yang technically berawal sejak masih duduk di bangku SMP… kemudian saya mengingat entah sudah berapa banyak murabbiah yang begitu lembut mengajak saya untuk sama-sama belajar ber-taqarrub kepada Allah SWT, tapi hati saya tidak kunjung merasa tersentuh. Padahal, materi yang mereka sampaikan sama. Tapi, kok tidak juga merasa tersentuh? Nggak terbayang kan, sekeras apa hati saya ini, sampai-sampai baru benar-benar kepingin liqo’ (atas keinginan dan kesadaran sendiri InsyaaAllah) saat sudah lulus kuliah S1.

Duhai diri, semoga dengan menuliskan postingan ini, kamu bisa selalu ‘on the track’ ya, apapun yang terjadi. Jangan malas-malas lagi pergi liqo’. Niatkan pergi liqo’ untuk ber-taqarrub kepada Allah, niatkan pergi liqo’ untuk sama-sama belajar memperdalam ilmu agama, niatkan pergi liqo’ untuk bersilaturrahiim dengan teman-teman shalihah yang bisa menjadi tempat untuk bercermin. Semangat ya, duhai diri!


250345_10150202389742838_817467837_7024623_5214580_n

Lingkaran cinta itu bernama halaqah…

–salah satu ucapan Kak Cut yang sempat beliau jadikan status Facebooknya. Jazaakillahu khayran kaatsiraan, Kak Cut. Uhibbuki fillah :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s