Lingkaran cinta itu bernama halaqah.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sekitar tahun 2016 awal, ketika memilih resign dari kerjaan sebelumnya untuk mempersiapkan ujian masuk ITB–walaupun gagal juga tetep hehe, saya memiliki banyak waktu luang. Anehnya, tidak seperti kebanyakan orang lain yang mengeluh karena merasa tidak produktif saat memiliki banyak waktu luang, saya malah merasa sebaliknya. Di mata orang mungkin saya melakukan hal-hal yang tidak produktif, tapi saya senang karena bisa memberikan healing moment untuk diri sendiri yang (entah kenapa) selalu merasa tertekan sejak lulus kuliah. Saking terlalu banyaknya waktu luang, saya pun mulai terpikir untuk ikut liqo’ lagi. Entah apa yang mendorong saya sebegitu kuatnya sampai-sampai tanpa pikir panjang lagi saya langsung menghubungi murabbiah saya dulu, namanya Kak Ulil. Sayangnya, Kak Ulil sudah tidak menetap di Banda Aceh lagi. Kak Ulil sudah memiliki pekerjaan sebagai dosen di suatu perguruan tinggi yang saya lupa nama dan tempatnya dimana.

Saat itu, saya berpikir akan begitu awkward kalau saya menjadi¬†“pendatang baru” pada sebuah kelompok liqo‘ yang sudah berjalan. Dimana isinya adalah orang-orang yang tidak saya kenal, termasuk murabbiah-nya nanti. Kak Ulil sudah memberikan kontak murabbiah saya yang baru, tapi saya masih ragu untuk menghubunginya karena pemikiran-pemikiran ini. Tapi, lagi-lagi, entah apa yang mendorong diri ini dengan begitu kuat, sampai-sampai bisa melawan diri sendiri. Saya pun menghubungi murabbiah baru saya itu, namanya Kak Cut. Continue reading “Lingkaran cinta itu bernama halaqah.”

Advertisements