Antara Marie Kondo, KonMari Method, dan The Life-changing Magic of Tidying Up

Awal mula kenapa bisa tertarik baca buku ini adalah semenjak nama Marie Kondo makin dikenal banyak orang. Saya berpikir, “Bukankah KonMari itu sudah cukup lama? Kenapa baru booming sekarang?”, sambil berusaha mengingat-ingat kapan persisnya saya tahu soal KonMari Method. Sepertinya tahun 2016, tepatnya saat melihat postingan seorang Kakak Leting di akun Instagramnya, yang tengah memperlihatkan hasil penataan pakaian di lemarinya dengan menggunakan KonMari method ini. Tapi memang, mungkin pada saat itu KonMari hanya terkenal sebatas “teknik melipat (pakaian)”. Padahal jauh daripada itu, ada banyak sekali teknik yang digagas oleh Marie Kondo perihal berbenah. Dan itu semua dia rangkum pada sebuah buku yang diberi judul The Life-changing Magic of Tidying Up.
 
IMG_20190203_220751[1]
 
 

Buku pertamanya menjadi #1 New York Best-Seller. Bahkan, buku pertamanya ini sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Melihat ‘kesuksesan’ ini–mungkin–Marie Kondo pun semakin termotivasi untuk ‘menebarkan’ misi utamanya, yaitu: memberi tahu kepada setiap orang pentingnya berbenah. Maka, muncul-lah buku kedua yang diberi judul Sparks Joy.
 
Para pembaca yang sukses terpikat dengan buku pertama, tanpa banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, memutuskan untuk membeli buku kedua–meskipun belum diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Mereka (re: para pembaca) pada umumnya adalah orang-orang yang (setelah membaca buku pertama) merasa termotivasi untuk membenahi kamar, rumah, bahkan hidup mereka, atau orang-orang yang merasakan langsung manfaat dari teknik berbenah yang digagas dan juga dipaparkan oleh Marie Kondo. Bahkan komentar-komentar positif ini saya lihat dari beberapa influencer dalam negeri yang saya follow akun sosmednya. Diantara komentar-komentar positif itu, adalah, “Suami saya setelah membaca buku KonMari, jadi suka sekali berbenah”, atau bahkan yang rasanya terlalu berlebihan–tapi nyata–ada seseorang yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memilih jalan yang sesuai dengan passion-nya. Bagaimana bisa se-ekstrem itu perubahannya?
 
Mungkin inilah yang membuat dunia kemudian melirik Marie Kondo. Sampai-sampai,  sekarang, Marie Kondo sudah memiliki reality show-nya sendiri di Netflix (sebenarnya saya sendiri kurang begitu paham apa itu Netflix; apakah itu sebuah channel TV yang terkenal secara mengglobal, atau hanya aplikasi untuk menonton berbagai acara TV seperti Viu, Hooq, dan yang lainnya). Sosok Marie Kondo pun semakin dikenal oleh banyak orang. Bukan hanya di daerah asalnya saja, Jepang, tetapi di seluruh penjuru dunia.

Semenjak menonton ceramah Ustadz Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec (ada di YouTube, tapi berhubung sudah lama sekali saya tonton, saya jadi lupa video yang mana) tentang perjalanan karir/bisnis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mirip dengan konsep Cashflow Quadrant yang digagas oleh Robert T. Kiyosaki (dulu Robert T. Kiyosaki juga sempat menjadi sosok fenomenal layaknya yang terjadi kepada Marie Kondo saat ini, salah satu buku beliau yang dikenal banyak orang adalah Rich Dad, Poor Dad), saya jadi ‘auto’ curiga dengan fenomenalnya Marie Kondo saat ini. Bisa jadi… terkenalnya Marie Kondo ini menjadi bagian dari skenario Allah untuk memperkenalkan sisi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah sepatutnya kita contoh.
 
Maksudnya?
 
Iya, jadi, ketika Robert T. Kiyosaki terkenal, orang mengira bahwa beliau jenius sekali dengan konsep Cashflow Quadrant yang beliau gagas. Padahal setelah ditelaah lebih jauh, ternyata, konsep ini sudah jauh lebih dulu dijalani oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam–bahkan sebelum Robert T. Kiyosaki dilahirkan. Nah, begitu pula halnya dengan Marie Kondo. Maka, untuk mencari tahu apa sisi lain dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin Allah perkenalkan melalui sosok Marie Kondo ini, saya memesan buku pertamanya: The Life-changing Magic of Tidying Up. Dan, anehnya saya, saking tidak sabaran buku itu sampai di tangan, saya malah terus mencari-cari review orang yang sudah membaca buku ini terlebih dulu. Reviewnya bagus-bagus sih, tapi… jadinya saya sudah kadung ketemu jawaban yang saya cari: Qana’ah. Iya, sisi kehidupan Rasul inilah yang ingin Allah perkenalkan kepada saya (pun mungkin kepada semua orang) melalui sosok Marie Kondo. Saya jadi merasa sedikit menyesal karena sudah gegabah dalam bertindak (memesan buku tanpa berpikir panjang) dan kemudian menjadi takut kalau-kalau nanti saya tidak lagi bersemangat untuk membaca buku itu.

Apa yang saya takutkan, untungnya tidak terjadi. Mungkin karena saya sudah terlanjur membuat resolusi untuk membaca 5 buku di tahun 2019 ini (dan merasa harus bertanggung jawab atas resolusi tersebut), atau bisa jadi karena buku pertama yang saya baca di awal tahun ini merupakan buku yang bagus (sehingga semangat membaca masih cukup membara)… Entahlah. Tapi, overall, saya cukup menikmati buku Marie Kondo ini.
 
Dalam buku The Life-changing Magic of Tidying Up ini, Marie Kondo memperkenalkan awal mula kenapa dia bisa begitu tertarik dengan kegiatan berbenah, bagaimana perjalanan dia sampai akhirnya dia ‘menemukan’ dan ‘menggagas’ KonMari Method, dan bagaimana teknisnya KonMari Method itu bekerja.
 
Sebenarnya, tanpa membaca buku pun, 70% isi dari buku ini sudah bisa kita ketahui. Kenapa? Karena sudah banyak sekali orang yang membahas buku ini, terlebih tentang bagaimana prinsip kerja KonMari Method itu sendiri. Belasan atau bahkan puluhan video, podcast, bahkan juga tulisan di blog, sudah membahasnya. Tapi, ketika orang ‘mengagung-agungkan’ Marie Kondo atas ‘gagasan brilian’-nya ini, saya justru ‘salah fokus’ dengan cerita masa kanak-kanaknya. Cerita inilah yang membuat saya terus ingin membaca bukunya.
 
Marie Kondo yang merupakan anak tengah dari tiga bersaudara (dia memiliki seorang kakak laki-laki dan adik perempuan), menceritakan hal-hal yang hanya bisa dirasakan betul oleh para middle children–seperti saya. Jadi setiap kali Marie bercerita hal-hal yang dia alami sebagai anak tengah, saya seolah berteriak di dalam hati, “I feel you, Marie, I feel you!“. Haha, kesannya receh banget ya, alasan saya untuk bisa suka dengan satu buku? Tapi, di samping receh atau tidak, buku yang menyorot kehidupan anak tengah memang jarang sekali saya temukan (atau entah saya yang jarang baca buku, hehe). Padahal, menarik, lho. Setiap anak tengah yang saya temui, baik secara langsung atau tidak, punya one thing in common: Mereka cenderung punya perasaan terabaikan.
 
Terabaikan? Eit, tunggu.
 
Bukan berarti saya bilang kedua orang tua saya (atau orangtua anak tengah yang lainnya) begitu bias memperlakukan anak tengah–Bukan! Perasaan terabaikan itu semacam perasaan yang secara natural muncul begitu saja, yang dirasakan oleh anak tengah pada umumnya. Terlebih, anak tengah dari tiga bersaudara. Saya juga tidak mengerti kenapa bisa demikian, apakah ada penjelasan ilmiah dari aspek psikologisnya, tapi, ya… yang saya amati sih begitu. Hehe.
 
Lantas, kalau buku ini menyoroti kehidupan dan jalan berpikirnya anak tengah, memangnya kenapa? Dimana sisi menariknya? Menariknya, adalah, para anak tengah seharusnya bisa merasa termotivasi seperti Marie Kondo untuk belajar menggaet perhatian kedua orangtua dengan cara yang baik, bukannya seperti saya… yang suka cari perhatian kedua orangtua saya dengan cara paling kekanak-kanakan: ngambek dan suka pundungan. Hehehe.
 
Hal positif lain yang bisa saya highlight dari cerita-cerita dalam buku ini adalah ternyata memang, sebaik-baik suri tauladan (uswah) memanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semenakjubkan apapun satu sosok, entah itu Marie Kondo atau siapapun yang nanti akan dikenal dunia dan menjadi begitu fenomenal, pasti akan membawa kita kepada kesimpulan ini. Semua hal yang baik telah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalui dan lakukan terlebih dulu.
 
Misalnya, mungkin semua orang tidak habis pikir dengan betapa efektifnya KonMari Method dalam membantu mereka berbenah. Padahal, kalau ditelaah lebih dalam, kunci dari KonMari Method itu adalah: membuang barang yang tidak memberikan kebahagiaan dan hanya menyimpan barang-barang yang memberikan kebahagiaan. Marie Kondo bahkan merasa kita memiliki tanggung jawab atas apa-apa yang kita miliki. Kalau ada satu barang yang kita miliki tapi luput dari perhatian kita sehingga kita tidak pernah mempergunakannya, lantas untuk apa menyimpannya lama-lama? Sudah sebaiknya apa-apa yang kita simpan adalah apa-apa yang benar-benar bisa memberikan kita kebahagiaan dalam jangka waktu yang lama, dan mungkin ini adalah sesuatu yang harus kita latih dari sekarang, agar nantinya kita bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur atas apa-apa yang kita punyai.
 
Saya di dalam hati langsung berkomentar, “Marie Kondo saja tahu ya dengan konsep qana’ah dan tidak boleh mubazir”. Hehe 😀
 
Maka, sekian postingan kali ini. Tujuan utama postingan ini sebenarnya untuk melatih diri sendiri supaya tidak terlalu mengidolakan, mengagumi, menyukai satu sosok secara berlebihan. Ketertarikan atau kecenderungan yang Allah tumbuhkan dalam diri ini seharusnya bisa membuat diri ini lebih kritis untuk mencaritahu: Apa sebenarnya hal baik yang ada pada sosok ini, sehingga Allah membuat saya memiliki ketertarikan atau kecenderungan pada si ‘dia’? Dan, pada akhirnya, insyaaAllah segala sifat, segala hal baik tersebut itu ternyata sudah lebih dulu dilakukan atau dijalani oleh uswah kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
 
Sesungguhnya, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu
– [Surah Al-Ahzab ayat 21].
 
 
B
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s