Maaf, saya bukan teman yang baik.

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi membuat masalah. Ada seorang teman yang meminta bantuan saya, namun saya tolak dengan alasan yang mungkin akan terkesan sangat egois ataupun terlalu mementingkan diri sendiri. Alasan itu adalah: saya sedang perlu waktu untuk sendiri, untuk menenangkan diri sendiri, dan Qadarullaah, saat itu saya juga sedang tidak enak badan. Terdengar banyak banget bacotnya sih, memang. Tapi, saat itu saya benar-benar tidak bisa memenuhi permintaannya—walaupun, permintaan dia sangatlah simpel.

Saya meminta maaf langsung pada saat itu juga, saya menjelaskan kondisi saya apa adanya dan berharap sang teman ini mau mengerti. Namun, pesan saya tidak dibalas. Ketika bertemu lagi dengannya—I mean, literally bertemu, bertatap muka—saya menyapanya lebih dulu. Mungkin saya terkesan kurang ajar banget. Kok masih sempat-sempatnya saya menegurnya dengan ceria, sementara mungkin dia—teman saya—sudah kesal bukan main. And as I expected before, dia hanya membalas sapaan saya dengan senyum seadanya. Dan sekarang, semua terasa awkward.

Nice.

Kejadian seperti ini bukanlah hal asing bagi saya. Jauh sebelum kejadian ini terjadi, sudah banyak kejadian-kejadian serupa. Mending sih kejadian yang ini, masih bisa diketahui apa penyebab teman saya (mungkin) merasa kesal terhadap saya. Yang lalu-lalu, malah saya nggak tahu apa penyebabnya. Entah karena saya yang kurang peka akan kesalahan yang saya perbuat, entah karena teman saya yang terlampau sensitif. Entahlah.

Kalau dulu, saya selalu merasa bersalah “sebersalah-bersalah” mungkin. Walaupun sudah meminta maaf (saya nggak pernah peduli saya salah atau benar, saya selalu berusaha untuk meminta maaf), terkadang sebagian besar orang belum cukup hanya dengan kata maaf sehingga yang namanya “boikot” itu perlu mereka lakukan terhadap saya. Mereka mendiamkan saya berhari-hari. Well, ini manusiawi sih, saya juga pernah seperti ini. Hanya saja, ketika saya berada pada posisi si peminta maaf, seringnya saya nggak gentar. Saya akan terus meminta maaf sampai saya mendengar, “Iya, Mut. Nggak apa-apa, udah dimaafin, kok” dari mulut mereka—yang akan saya maknai sebagai oke-semua-sudah-berlalu-kita-mulai-persahabatan-dari-nol-lagi-ya. Sehingga saya kerap mengusik mereka dengan pertanyaan, “Kamu masih marah ya? Kok mukanya masih jutek gitu sih sama aku…”, yang kemudian pernah dijawab, “Apa aku teh harus operasi plastik ya, da muka aku mah emang gini. Susah emang jadi orang yang judes bawaannya ya”

Ucapan itu, akan selalu saya ingat, karena benar-benar seperti ucapan yang ditiupkan ke udara lantas kata demi kata dari ucapan tersebut membuat formasi sehingga menyerupai bentuk pisau yang tajam. Lalu pisau itu dihunuskan tepat ke bagian abstrak dalam diri ini: hati. Sakit.

Tapi, itu sih dulu.

Pandangan saya terhadap masalah-masalah seperti ini kemudian berubah setelah saya secara nggak sengaja menonton sebuah video di YouTube. Saya lupa dari channel apa, yang saya ingat video tersebut semacam video animasi muslim, yang dinarasikan oleh Ustadz Nouman Ali Khan. Secara garis besar, video tersebut bercerita tentang seorang pemuda yang keras sekali hatinya, sulit sekali dinasehati, sedang beradu pendapat dengan pemuda lainnya. Sebagai tokoh ketiga, ada seorang kakek tua yang kemudian memilih untuk mendiamkan pemuda yang keras tadi. Setiap kali Pemuda itu menyapa Sang Kakek di jalan, Kakek itu malah diam saja. Merasa ada yang salah, Si Pemuda pun bertanya, “Kenapa Anda mendiamkan (atau mengacuhkan) saya?”

Kakek itu membalasnya dengan kalimat yang sangat golden menurut saya. Hanya saja, sayangnya, saya lupa persisnya apa yang Kakek itu ucapkan hehe. Intinya Kakek itu hanya nggak mau memperkeruh suasana.

Disitu saya mulai berpikir, saya mencoba memposisikan diri sebagai keduanya, baik sebagai Pemuda Keras tadi, ataupun Kakek Tua. Terkadang memang orang perlu waktu untuk meng-cooling down-kan perasaannya setelah merasa kecewa kepada seseorang. Dan terkadang diam juga menjadi senjata ampuh untuk membuat seseorang sadar akan kesalahan yang dia buat. Hal ini juga saya dapat dari Mamak. Mamak seriiiiiing sekali mendiamkan saya ketika saya berbuat salah. Kalau sudah yang seperti ini terjadi, biasanya saya masuk ke kamar dan menangis. Lalu berpikir, “Kenapa sih, kalau memang saya salah, nggak dimarahi aja? Didiamkan kaya gini lebih menyakitkan”. Sekarang, sepertinya I get that point. Mungkin, Mamak berpikir, untuk apa marah-marah? Hanya menghabiskan waktu dan tenaganya saja… dan belum tentu juga dengan marah-marah, saya bisa menyadari langsung apa kesalahan yang saya buat. Bisa saja kan, saya berkelit, menyanggah, dan melawan? Atau bahkan… memberontak? Lain halnya jika didiamkan. Saya dibiarkan mencari tahu sendiri apa kesalahan saya. Dan, in my humble opinion, apa-apa yang kita temukan melalui penelusuran sendiri, itu lebih membekas. (Dengan ini saya juga akhirnya tahu kenapa saya sering mendiamkan orang ketika saya marah atau kesal).

Nah, maka dari itu, sekarang… saya memiliki prinsip. Kalau kedepannya terjadi hal yang serupa, saya cukup meminta maaf. Itu kewajiban saya. Ya, meminta maaf dengan setulus hati. Tidak usah mengharapkan apa-apa. Toh, orang perlu waktu–bukankah kamu juga begitu, Mut?

Hmm, kembali ke topik “drama” persahabatan yang saya angkat pada postingan ini.

Saya mulai mengorek kenangan-kenangan lama. Saya ini sudah sering di-“beginikan” oleh orang (tanpa maksud untuk menyudutkan mereka, karena salah-benar hanya masalah persepsi saya rasa). Tapi bukan itu yang harus saya pikirkan. Kalau stuck hanya pada pemikiran saya-sudah-sering-dibeginikan-oleh-orang (padahal bisa jadi saya juga sering “membegitukan” orang lain), lantas, masa iya mau begini aja terus?

Tentu harus ada life lessons yang saya pelajari.

Qadarullaah, beberapa hari saya berpikir tentang masalah ini—yep, saya ini tipikal yang overthinking, overworried, over something—saya sepertinya sedikit mendapat pencerahan. Saya dibuat ingat oleh ucapan salah seorang murabiah saya (saya lupa, tapi sepertinya Kak Ulil), dimana beliau bilang kurang lebih seperti ini: “Kalau kita ingin tahu bagaimana perasaan atau perlakuan Allaah terhadap kita, lihatlah bagaimana orang-orang memperlakukan kita

Saya kemudian mencoba mengingat. Sedih sih, kalau diingat-ingat. Sejauh yang saya bisa lihat dan bisa saya renungkan, kebanyakan orang tidak nyaman ketika harus bersama saya. Entah cuma perasaan atau pemikiran saya sendiri aja, tapi entah kenapa saya begitu yakin dengan ini.

Saya ingat, dulu waktu SMA, saya pernah janjian dengan seorang teman untuk merental warnet barengan—demi menghemat biaya warnet. Tapi tiba-tiba saja dia pindah dan memilih barengan dengan teman saya yang lainnya. Saya juga ingat, manakala saya memiliki jumlah sahabat dekat yang ganjil (termasuk saya di dalamnya), saya selalu merasa sendiri. Saya selalu berjalan sendiri sementara yang lainnya jalan bersama-sama. Kalaupun saya mencoba untuk fit in, ya gang sekolah pada saat itu terlalu kecil juga sih. Ujung-ujungnya, saya ya di belakang juga posisinya. Saya juga ingat, kalau ditinggal berdua dengan saya, orang akan sangat awkward dengan saya. Padahal kalau saya perhatikan, orang-orang tersebut kalau ditinggal berdua dengan orang lain ya santai-santai aja.

Awalnya saya berpikir, “It’s okay Mut… kamu memang tipikal yang kaku kok, orangnya” atau “Kamu emang nyebelin kali Mut”. Tapi sekarang, saya lebih memaknainya sebagai: Oh bisa jadi beginilah yang Allaah rasakan ke saya. Bisa jadi Allaah tidak nyaman, atau bahkan tidak sreg dengan saya. Allaah itu Maha Suci, dan kamu tidak suci, Mut. Kamu itu berlumur dosa. Berlumur. Ber-lu-mur. Tapi di lain sisi, Allaah itu Maha Penyayang, dan inilah cara Dia membuat kamu sadar.

Ya, sadar.

Pertama, akhirnya kamu sadar kamu banyak dosa. Kedua, akhirnya kamu sadar kalau yang perlu kamu jadikan tambatan hati ya cuma Dia. Allaahushshamad, Allaah lah tambatan hatimu. Allaah lah yang sudah sepatutnya kamu jadikan satu-satunya harapan. Allaah lah yang sudah sepatutnya kamu jadikan tempat bergantung. Ingat, nggak, kisah Ka’ab bin Malik yang diboikot oleh satu kampung, cuma gara-gara nggak ikut perang? Itu, Allaah yang menyuruh Rasul supaya Ka’ab diboikot. Bahkan sama sahabat dan istrinya sekalipun, yang notabenenya orang terdekat Ka’ab. Kenapa? Karena Allaah sayang sama hamba-hamba-Nya—nggak terkecuali Ka’ab. Allaah Yang Maha Mengetahui, sudah mendeteksi gejala-gejala kemunafikan pada diri Ka’ab, sehingga Allaah pengen menyadarkannya. Sekaligus, Allaah pengen, Ka’ab menjadikan Allaah sebagai satu-satunya tempat dia bergantung, berharap, dan meminta. So, mulai sekarang, saya bertekad nggak akan terlalu “menggantungkan” diri saya kepada orang. Selain hanya akan menambah beban hidup orang (setiap orang pasti punya masalah), itu juga nggak baik untuk hati. (Semangat Mut, semoga senantiasa Allaah mudahkan!).

Ketiga, kamu harus banyak bersyukur udah Allaah titipkan orang-orang yang mau menerima kamu apa adanya, sebegajulan apapun kamu, sehina apapun kamu, sebanyak apapun dosa kamu, semengecewakan apapun kamu, seburuk apapun kamu. Mereka adalah keluarga. Ayah, Mamak, Adek, dan Abang. Kadang, kamu sibuk mencari apa yang sebenarnya sudah Allaah titipkan kepada kamu untuk dinikmati dalam bentuk syukur. Lantas, kemana aja kamu selama ini, Mut? Pernah nggak, kamu secara spesial mensyukuri kehadiran mereka, yang atas izin Allaah menjadi bentuk nyata kasih sayang Allaah untuk kamu?

Alhamdulillaah.

Sekarang saya sudah jauh lebih lega.

Mungkin postingan ini terlalu didramatisir, lebay, ngeselin. Tapi saya merasa perlu menuliskannya, sehingga saya bisa kembali membaca dan sadar kembali kalau-kalau ke depannya saya merasa rapuh lagi (karena iman itu naik-turun really, dan bagi saya, seringnya malah turun astaghfirullaah). Semoga senantiasa istiqamah dalam mentafakuri kejadian-kejadian ya, Mut. Karena memang, nggak ada yang namanya kebetulan. Bahkan, ketika saya mempelajari bagaimana sebuah Bilangan Acak bisa diperoleh, ternyata proses di baliknya juga nggak random-random amat. Masih ada algoritma untuk men-generate-nya, which means: there’s no such things as coincidence. Semua sudah Allaah atur, serapih mungkin, sebaik mungkin di sana. Iya, di Lauh Mahfudz-nya

Dan untuk teman-teman: Tolong maafkan, kalau selama ini saya belum bisa menjadi teman yang baik.

–B

____________________________________________

Ditulis selepas Asar, Qadarullaah dapat semangat untuk isi blog lagi setelah baca buku Gita, dan akan diedit supaya agak enak dibaca ketika bisa berinternet lewat laptop nanti InsyaaAllaah. 🙂

Advertisements

One thought on “Maaf, saya bukan teman yang baik.

  1. “Dengan ini saya juga akhirnya tahu kenapa saya sering mendiamkan orang ketika saya marah atau kesal”

    aduh, kenak banget dengan kalimat ini mut. Ka ai, tipikal orang yang seperti itu juga dek, berusaha menjaga jarak dulu ketika lagi marah atau kesal. Karena memang ampuh banget untuk muhasabah diri dulu, apa sih yang salah dengan diri kita atau bagaimana setelahnya kita memperlakukan orang yang membuat kita marah itu. Butuh waktu untuk diri sendiri dulu, nangis bombay dulu, nulis-nulis diary dulu, jalan-jalan naik motor sendiri atau bahkan pergi ke masjid sendiri buat mengadu sama Allah.

    at the end of the day, kita ngerti bagaimana kita bersikap selanjutnya dan bagaimana menata hati setelah semua bongkahan kegelisahan kita keluarkan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s