Setelah Ramadhan Berakhir..

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Saya nggak mengerti dengan apa yang terjadi kepada saya sekarang. Entah karena konspirasi alam semesta –melalui turunnya hujan deras tanpa petir– yang membuat saya seharian ini jadi mellow, atau mungkin karena hal lain… saya nggak mengerti.

Kemarin, tampaknya (saya dan) semuanya baik-baik saja. Saya memang merasa sedikit sedih karena harus menghabiskan hari Lebaran bersama keluarga, tapi itu nggak berlangsung lama. Karena, Allaah, dengan sifat-Nya Yang Maha Penyayang, nggak membiarkan saya sendirian. Dia mengirimkan teman-teman, yang kemudian saya anggap mereka sebagai keluarga baru, untuk menghabiskan waktu Lebaran bersama. Hari Lebaran, walau harus dilalui di tempat “orang” dan jauh dari keluarga, terasa tetap menyenangkan bersama mereka. Buka puasa di hari-hari terakhir Ramadhan, sibuk mempersiapkan hidangan-hidangan khas Lebaran bersama teman di malam takbiran, kemudian menyantap hidangan tersebut di pagi harinya, berjalan-jalan mengitari kota ini… sepertinya nggak ada yang salah, bukan, dengan itu semua?

Lantas? Entahlah, saya pun nggak mengerti. Saya nggak mengerti: kenapa sekarang, saya menghabiskan waktu yang saya punya hanya untuk merenung seharian? Entah apa pun yang saya renungkan. Padahal, ada segudang hal lain yang menunggu untuk saya kerjakan, seperti: mencuci baju dan sepatu, mengerjakan tugas, mencicil belajar untuk UAS, et cetera.

Ada segelintir perasaan, yang sulit sekali dijelaskan dengan pasti apa perasaan itu. Apakah itu perasaan senang, ataukah sedih? Rindu ataukah kehilangan? Entahlah. Saya hanya mampu menggunakan kata bitter untuk mewakili kesemuanya itu. Ya, bitter.

Hanya satu clue yang saya punya soal perasaan ini. Perasaan ini, bukanlah sesuatu yang baru. Perasaan ini tidak asing, sudah begitu familiar. Perasaan ini, walau mungkin tidak persis sama jika ditelaah dari berbagai aspek, mirip dengan perasaan ketika saya dan keluarga harus ikut ke Bandara untuk mengantarkan Abang kembali ke Jakarta. Perasaan ini, mirip dengan perasaan ketika saya menyapu dedaunan kering yang jatuh di halaman depan rumah lalu saya melihat satu lorong Jalan Tengku Dibitai yang kembali sepi –hanya ada warga aslinya saja, yang pada umumnya sudah berusia lanjut semua. Dan perasaan ini, kerap terjadi setelah Ramadhan berakhir.

Shouldn’t you be happy? Because everyone does.

Shouldn’t you be happy? Because this is Eid Al-Fitr day.

Continue reading “Setelah Ramadhan Berakhir..”

Advertisements