Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)

Orang bilang, Bandung tidak sedingin dulu lagi.

Tapi, ketika waktu Subuh datang, dimana udara pagi saat itu masih segar-segarnya–belum tercemar oleh asap kendaraan bermotor, Bandung tetap saja terasa dingin. Saya rasa ini pun berlaku untuk seluruh daerah. Daerah dengan suhu yang lebih tinggi sekalipun, seperti Aceh. Makanya, sebagai pecinta cuaca dingin, saya sangat mengagumi waktu Subuh.

Alhamdulillaah, walau semalam saya larut berjam-jam dalam obrolan (nostalgia) bersama Nia dan Vera, saya masih diberikan kesempatan oleh Allaah SWT untuk bangun di kala Subuh menyapa. Karena hanya saya saja yang pada saat itu tidak berhalangan untuk shalat, maka saya langsung bergegas ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Segar. Sejuk. Menenangkan. Saya shalat, lalu setelahnya, saya termenung. Rasanya, masih belum percaya saja kalau akhirnya saya benar-benar kembali ke kota ini.

Bandung.

Eh, tapi, ini memang benar adanya. Memang nyata.

Saya melirik ke arah Nia dan Vera yang perlahan mulai terbangun dari tidur. Dan lagi-lagi, saya masih merasa amazed. Kembali ke kota ini, lalu menghabiskan waktu singkat disini dengan dua orang sahabat terbaik… maka benar apa yang berulang kali Allaah SWT ulang pada salah satu surahnya dalam Al-Qur’an: “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah, yang engkau dustakan?”

***

Kami bertiga sudah bangun. Seolah waktu tidak akan pernah cukup untuk mengobati kangen-kangenan kami bertiga yang sudah lama sekali tidak bertemu, kami menghabiskan waktu berjam-jam lagi untuk melanjutkan obrolan nostalgia semalam.

“Eh, kalian mau sarapan apa? Aku punya roti sama telur”, begitu yang Vera katakan, di sela-sela obrolan kami bertiga.

Akhirnya kami memutuskan untuk memasak roti bakar telur bersama (untuk saya, tentu saja tanpa kuning telur, dan you know, rasa roti bakar telur itu tetap sama. tetap enak dengan kesederhanaannya). Setelah menikmati sarapan bersama, barulah kami bersiap-siap untuk melanjutkan misi kami: meng-explore kota Bandung.

===================================================================

Rumah Makan Linggarjati

Lagi, ketika mau ditanya mau kemana hari ini, saya dan Nia bingung. Kami berdua memang tidak punya tempat-tempat tertentu yang sengaja kami list untuk dikunjungi. Mungkin ada, tapi itu hanya satu-dua tempat, dan itu sih kebanyakan atas request saya, hehe. Selebihnya, kami sepertinya sudah merasa cukup bahagia hanya dengan bertemu Vera dan menyapa Bandung kembali.

Maka, setelah adzan Zhuhur berkumandang, kami memutuskan untuk pergi ke Mesjid Agung. Dalam perjalanan menuju Mesjid Agung, kami melewati sejumlah tempat, seperti SDN Merdeka, atau bahkan beberapa tempat yang biasa saya lewati saat menaiki angkot Buah Batu tiga belas tahun yang lalu, seperti: Hotel Panghegar (eh, Hotel Panghegar, atau Papandayan ya?), sebuah bangunan kecil yang di depannya ada tulisan Pengobatan Tabib (saya lupa nama Tabib-nya siapa), sebuah toko buku yang menjual buku-buku Islami (saya pernah mengunjungi toko buku itu sekali dengan Ayah, ketika pulang les, untuk membeli Al-Qur’an), dan juga beberapa tempat lain di sekitar Mesjid Agung yang membuat saya ingat saat-saat dimana saya, Mama, dan Adek sering melewati tempat-tempat itu ketika akan pergi ke dokter gigi.

Berhubung sedang weekend, Bandung dipenuhi oleh banyak orang. Sehingga, karena saya memang tipikal orang yang kurang suka dengan keramaian, cepat-cepat saya masuk ke dalam mesjid untuk shalat Zhuhur. Lalu setelahnya, saya langsung menerobos keramaian untuk menemui Nia dan Vera yang sudah lama menunggu.

Karena sudah siang dan sudah waktunya juga untuk makan siang, kami mencari sebuah tempat yang direkomendasikan oleh Nenek-nya Vera. Sebuah rumah makan, namanya Rumah Makan Linggarjati. Saya pribadi selalu merasa excited kalau ada orang tua yang merekomendasikan suatu hal, seperti rekomendasi tempat makan ini misalnya. Karena saya beranggapan bahwa apa yang direkomendasikan orang tua itu benar-benar recommended–worth to try!

Namun, saya, Nia, dan Vera, sedikit kesulitan dalam menemukan lokasi Rumah Makan Linggarjati. Padahal kami sudah mengikuti saran dari Google Maps, bertanya kesana kemari, tapi… kami seolah berada dalam labirin yang entah akan membawa kami kemana. Sampai akhirnya kami hampir saja menyerah, bahkan Nia bilang, “Coba nih ya, kita cari sekali lagi. Kalau beneran nggak dapet, ya udah deh Wendy’s aja!”

Sepertinya kami memang ditakdirkan oleh Allaah SWT untuk menyicipi makanan-makanan di Rumah Makan Linggarjati. Ya, pada akhirnya kami menemui rumah makan itu, dan itu, jelas membuat kami girang bukan main–persis seperti para pengelana yang menemukan oase di tengah padang pasir. In case, ada juga yang mungkin penasaran dan ingin berkunjung ke Rumah Makan Linggarjati ini, saya akan kasih tahu rute yang singkatnya. Dari Mesjid Agung, kalian cukup menyebrang menuju Ampera. Nah, di belakang Ampera-lah Rumah Makan Linggarjati ini tersembunyi.

Kenapa saya bilang tersembunyi? Karena memang letaknya yang sedikit lebih masuk ke dalam gang kecil, dan tertutupi oleh besarnya Ampera. Sedangkan Rumah Makan Linggarjati, tidak seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Bangunannya terbilang kecil untuk Rumah Makan. Malah, saya sebelumnya sanksi untuk makan disitu karena dari luar tampak seperti warung bakso biasa. Tapi ternyata…

32-4-300x225
Inilah Rumah Makan Linggarjati, tampak dari luar. Gambar saya ambil dari sini.
rumah-makan-linggarjati-3
Ini dia bagian dalam Rumah Makan Linggarjati. Dan saya baru sadar keberadaan botol-botol minuman di atas itu sekarang -_- (Gambar saya ambil dari sini)
linggarjati-03
Rumah Makan Linggarjati yang selalu ramai. Saya pernah googling, tentang Rumah Makan ini. Ternyata, Rumah Makan ini sudah ada sejak lama. Makanya, walau tempatnya kecil, terkesan tidak mewah, tapi sudah punya nama bagi masyarakat kota Bandung. (Gambar dari sini)

Ternyata, jauh dari apa yang saya bayangkan. Memang benar rupanya pepatah, dont judge a book by its cover. Walau tampak kecil dan terkesan tidak mewah, tapi bagian dalam Rumah Makan ini benar-benar bersih. Kebersihannya bahkan tidak kalah dengan restoran-restoran mewah. Saya, yang awalnya sanksi untuk makan disitu (karena takut akan ada kucing berkeliaran di kolong-kolong meja makan), malah merasa sebaliknya, nyaman sekali menikmati makan siang disini.

Dan, ada beberapa hal tentang Rumah Makan Linggarjati yang perlu diketahui, in case ada orang yang sempat menganggap remeh tempat makan ini (seperti saya, pada awalnya, hehe):

1. Kalau mendengar kata Rumah Makan, yang saya bayangkan adalah tempat makan dengan berbagai jenis makanan, seperti: Berbagai nasi (Nasi Bakar, Nasi Goreng, Nasi Uduk, dan lain sebagainya), berbagai lauk-pauk yang tersedia (Ayam Bakar/Goreng, Ikan Bakar/Goreng, dan lain sebagainya), tapi… di Rumah Makan Linggarjati, yang bisa saya temukan hanyalah jenis-jenis makanan seperti Mie Bakso, Yamin, Bihun, dan Siomay.

2. Ketika akan berkunjung ke Rumah Makan Linggarjati, pastikan kalau kita sudah googling tentang pengalaman orang-orang yang sudah pernah kesitu. Karena biasanya pada cerita pengalaman orang itu, kita akan tahu harga dari berbagai jenis makanan yang ada di Rumah Makan Linggarjati ini. Loh? Kenapa harus tahu dari orang-orang? Bukankah di menunya juga sudah pasti tertera harganya? Well… sorry to say… but no, you won’t be able to find the detail about the foods nor the beverages, termasuk, soal harganya. Jadi, persiapkan saja membawa uang lebih jika akan makan disini.

20140519_143008
Inilah menu yang ditawarkan oleh Rumah Makan Linggarjati. Lihat, tidak tertera harganya, bukaan? Hehe. (Gambar saya ambil dari sini)

3. Jangan meremehkan soal porsi yang nampak sedikit. Seperti yang saya alami. Saya memesan Siomay Kuah (karena dalam mindset saya Siomay Kuah akan berbentuk seperti Cuanki), sedangkan Vera dan Nia (kalau tidak salah) memesan Mie Bakso. Ketika pesanan kami disajikan, Vera dan Nia melirik pesanan saya lalu mereka bilang, “Mut, kalau kurang, minta aja punya aku ya”. Saya yang agak kaget melihat cuma dua buah Siomay dalam mangkuk pesanan saya, mengangguk pelan. Saya kira, porsi segini mana bisa membuat perut kenyang? Tapi ternyata, Alhamdulillaah, kenyangnya bertahan sampai sore! Hehe.

4. Jus Alpukat disini enak bukan main! Sebenarnya, saya memesan Es Kelapa. Tidak ada yang salah dengan Es Kelapa yang saya pesan. Rasanya enak, saya suka, beda dengan rasa es kelapa yang biasa saya beli di pinggir jalan. Tapi, kalau datang ke Rumah Makan ini, kamu akan menemukan tiap meja dengan minimal satu gelas Jus Alpukat di atasnya. Saya menyadari ini ketika menunggu pesanan datang. Kenapa ya, tiap meja pasti ada Jus Alpukatnya? Ternyata… setelah saya mencicipi Jus Alpukat yang Nia dan Vera pesan, saya amazed dengan rasanya. Enak! Beda dengan Jus Alpukat biasa. Jus Alpukatnya kental, pertanda kalau tidak banyak air yang ditambahkan selagi membuat jus. Jus Alpukatnya tidak ditambahkan susu kental manis cokelat–tidak seperti yang biasa saya lihat. Sebagai pengganti susu kental manis cokelat, di atasnya ditaburi es serut dan gula merah yang sudah dihancurkan menjadi bubuk. Dan, sensasi bittersweet dari Jus Alpukat yang biasa saya rasakan itu tidak ada. Hanya rasa manis dan segar saja. Enak! Saking enaknya, saya pesan satu Jus Alpukat untuk dibawa pulang. 🙂

5. Rumah Makan ini jelas bukan tempat yang cocok buat saya, yang memutuskan untuk hanya mengkonsumsi sayuran. Karena tingkat Siomay Kuah (ekspektasi saya, Siomay Kuah akan sama dengan Siomay Bandung yang ada kentang, tahu, kol, dan pare-nya) saja,  dibuatnya dari udang–which is a big NO for me (karena saya sempat punya kolesterol tinggi). Tapi dengan mengucap bismillaah, saya makan saja karena sudah kelaparan.

6. Sekedar informasi saja, harga Mie Bakso sekitar Rp 38.000,-. Sementara Siomay Kuah mungkin Rp 30.000,-. Es Kelapa Rp 19.000,-. Dan Jus Alpukat Rp 38.000,-. Itu kalau saya tidak salah mengingat lho, ya… Hehe. Intinya, untuk makan sendiri, harus mempersiapkan minimal Rp 100.000,- lah ya.

====================================================================

Asia Afrika dan Braga

Setelah makan siang, saya, Nia, dan Vera pergi ke Pendopo (saya menyebutnya begitu, soalnya di Aceh namanya Pendopo hehe). Jadi Pendopo itu adalah tempat tinggalnya walikota yang seperti sudah kita tahu semua adalah Bapak Ridwan Kamil, alias Kang Emil. Pendopo ini terbuka untuk umum (kurang tahu juga, apakah hanya berlaku untuk weekend, atau bisa juga dikunjungi pada hari kerja biasa). Kita hanya cukup menitipkan KTP kepada petugas keamanan, yang bisa kita ambil kembali ketika pulang.

Di Pendopo ini sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya saja, penataannya yang begitu rapih, benar-benar eye-catching. Tidak hanya rapih, tapi juga banyak sekali tanaman hiasnya. Jadi, untuk sekedar me-refresh pikiran yang sedang penat dan jenuh, ya bisa dengan berkeliling Pendopo.

Saya sempat mengabadikan foto-foto Pendopo, mungkin bisa dijadikan referensi bagi yang ingin ke Bandung, atau bahkan bagi orang Bandung yang belum pernah berkunjung ke Pendopo.

img_20170122_145318
Pemandangan yang disuguhkan begitu memasuki Pendopo.
img_20170122_151823
Tanaman hias yang eye-catching.

img_20170122_145908

img_20170122_145709
Lonceng VOC.
img_20170122_151611
Menara Mesjid Agung kalau dilihat dari Pendopo.
img_20170122_145050
Ini pemandangan ketika keluar Pendopo. Weekend di Bandung, konon katanya, selalu ramai seperti ini.

Setelah keluar Pendopo, saya yang sejak awal sudah merengek ingin sekali berfoto dengan quote-nya Pidi Baiq yang sedang kekinian itu, akhirnya mengajak Nia dan Vera untuk pergi kesana. Dan, akhirnyaa, Alhamdulillaah, mission accomplished!

img_20170122_153257
“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”–M.A.W.Brouwer. Konon yang punya quote ini adalah orang Belanda yang sudah kepalang cinta dengan kota Bandung, sehingga beliau tidak mau pulang ke daerah asalnya, dan memilih menetap di Bandung.
img_20170122_153619
“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”–Pidi Baiq. This quote says it all. :’)

Puas berfoto dengan quote-nya Pidi Baiq, saya, Nia, dan Vera melanjutkan perjalanan kami untuk menelusuri Jalan Braga. Dan beginilah pemandangan sepanjang Jalan Braga yang sempat saya abadikan dalam kamera.

screenshot_20170205_052536

screenshot_20170205_052628

screenshot_20170205_052611

img_20170122_154838

Overall, Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga ini adalah dua tempat yang menyimpan banyak kenangan ketika saya SMP; ketika saya sedang labil-labilnya haha. Jadi, walaupun tidak sempat mengunjungi bangunan SMP Negeri 13 Bandung, dengan menyusuri sepanjang jalan Asia Afrika dan Braga saja sudah membuat saya bernostalgia. Alhamdulillaah, senang 🙂

======================================================================

La La Land

Tinggal sedikit lagi waktu saya dan Nia di Bandung. Jadi, kami bertiga memilih untuk menghabiskan sisa waktu bersama yang sedikit lagi ini dengan menonton bersama. Kami pergi ke bioskop dan memilih La La Land untuk kami tonton bersama.

img_20170122_175143.jpg

Terlepas dari adegan-adegan kissing atau adegan lainnya yang membuat saya sempat menutup mata berulang kali (bilanglah sok alim, tapi saya memang begitu, masih belum terbiasa menonton adegan seperti itu walau usia saya sudah dua puluh lima), La La Land adalah film yang bagus. La La Land bercerita tentang Mia dan Sebastian yang secara tidak sengaja bertemu, awalnya saling tidak suka, kemudian waktu membawa mereka pada momen dimana keduanya mulai timbul perasaan suka, lalu memutuskan bersama, namun karena mimpi, mereka memilih perpisahan sebagai jalan terbaik yang harus mereka tempuh.

Ending dari film ini adalah bagian yang paling saya suka. Kalau kata orang, bikin susah move on. Saya pun tidak tahu kenapa saya bisa sebegitunya hanya dengan sebuah film. Apakah karena saya terbawa perasaan, dimana saya tidak ingin meninggalkan Bandung secepat ini? Atau memang karena terbawa alur film itu sendiri? Yang jelas, setelah menonton La La Land, terbersit rasa sedih, apalagi kalau mengingat kenyataan bahwa besok saya sudah harus kembali ke Bogor.

Oh iya, entahlah apakah ini penting untuk diceritakan atau tidak, tapi selepas menonton La La Land, ketika akan turun dengan eskalator, saya melihat Anandito, yang saya sebut sebagai artis (kalau tidak salah, dia adalah penyanyi, dan terkenal juga sebagai selebgram). Tapi, ketika saya dengan antusias memberitahukan soal itu kepada Nia dan Vera, mereka malah bertanya kepada saya. “Artis? Siapa, Mut?”, tanya mereka bersamaan. Lalu, karena saya menjawab, “Aduh, lupa namanya”, mereka membalas, “Kalau dia artis, kamu nggak bakal lupa namanya, Mut”

Dan begitulah, iya, tidak penting memang. Maka, kembali lagi dengan cerita sebelumnya, saya tiba-tiba merasa begitu mellow. Seolah alam pun ikut berkonspirasi dengan suasana hati, hujan deras pun turun. Saya, Nia, dan Vera, yang akan menuju Rumah Makan Vegetarian Kehidupan pun menunggu sebentar untuk kedatangan GrabCar yang akan mengantarkan kami kesana.

screenshot_20170205_062726

========================================================================

Rumah Makan Vegetarian Kehidupan

Sepanjang perjalanan menuju Rumah Makan Vegetarian Kehidupan itu, baik saya, Nia, ataupun Vera, masih saja menceritakan ending film La La Land yang membuat kami bertiga jadi ikut terbawa alur film tersebut. Namun, di tengah-tengah percakapan kami, sang driver GrabCar yang kami tumpangi tiba-tiba menyela, “Pernah makan di Kehidupan?” kira-kira begitu pertanyaannya.

“Belum”, balas kami bertiga. Lalu, kalau tidak salah, ada salah satu diantara kami yang bertanya, “Emangnya kenapa, Mas?”, sehingga sang driver memberi review untuk makanan-makanan yang pernah ia cicipi di Rumah Makan Vegetarian itu.

“Hambar, ya gitulah”, komentar sang driver, seolah-olah ingin mematahkan ekspektasi kami yang berlebih soal makanan vegetarian. Tapi tidak untuk saya. Saya sih oke-oke saja, buktinya, saya sempat menjadi vegetarian yang benar-benar vegetarian, dan mengurangi pemakaian bumbu penyedap, hasilnya? All is well, though.

Tapi, ya sudahlah, rasa penasaran toh sudah berhasil mengalahkan hasutan dari sang driver. Begitu sampai di Kehidupan, dengan memasang mindset: Tidak usah memasang ekspektasi terlalu tinggi, kami pun memasuki rumah makan vegetarian itu. Rumah makan ini dipenuhi dengan ornamen-ornamen oriental, karena memang kebanyakan yang memiliki gaya hidup vegetarian itu ya orang oriental. Di kanan kiri rumah makan ini banyak sekali poster, ataupun tampilan video, yang bersifat persuasif–mengajak para pengunjung untuk mengkonsumsi lebih banyak sayur ketimbang produk hewani.

screenshot_20170205_062559

screenshot_20170205_062625

screenshot_20170205_062644

screenshot_20170205_062701

Jenis masakan yang tersedia saat itu tidak banyak, karena kami datang saat rumah makan itu akan tutup (ya, Kehidupan tutup sekitar jam 9 malam). Jadi, kami hanya memesan Sate Jamur 6 tusuk, Dadar Balado, Tumis Wortel (atau, lebih cocok dinamakan Wortel Asam Manis Pedas ya?), Ikan Goreng, dan Shrimp Ball. Kami memesan itu semua untuk dibawa pulang. Kasian juga kalau para pegawainya harus menunggui kami makan.

Dan, ketika kami pulang, tepatnya ketika kami mulai mencicipi masakan-masakan itu (for your information, we have a dinner at 11 pm, like…really?! Haha), kami malah merasa amazed sendiri dengan rasanya. Siapa bilang hambar? Tidak recommended? Sejauh pengalaman saya menjadi vegetarian, makanan ini adalah yang terenak. Rasa Sate Jamurnya mirip Sate Ayam. “Dadar (Vegetarian)”-nya juga mirip seperti Dadar Asli rasanya. Begitu pula dengan “Ikan Goreng”, yang tidak benar-benar terbuat dari Ikan. Hanya saja, Shrimp Ball-nya tidak mirip Udang rasanya, walau tetap enak sih, haha. Overall, enak juga ternyata. Bahkan, Nia, jadi penasaran untuk mencoba menu-menu vegetarian lainnya.

Dan saya senang. Hahaha.

img_20170122_221054
Sate Jamur. Saya, Nia, dan Vera sepakat kalau ini enak, enak banget!

========================================================================

See you, when I see you again, Bandung…

Hari itu datang.

Sudah saatnya pergi, dan kembali pada kenyataan, Teman.

Bandung ini bukan kotamu. Dia hanya tempatmu singgah untuk sementara. Namun, perihnya, dia memberimu begitu banyak kenangan, sehingga ada saja hal-hal tentang Bandung, yang selalu membuatmu ingin kembali, lagi dan lagi.

Tapi, ini sudah saatnya kau pergi, Teman.

***

Pagi itu, dengan tergesa-gesa, saya, Nia, dan Vera bergegas menuju Stasiun Kereta Api. Walau sempat menemui kemacetan disana sini, Alhamdulillaah, saya dan Nia tiba di stasiun tepat waktu. Saya dan Nia berpamitan dengan Vera. Saya memeluk Vera dengan berat hati, karena ini bukan pelukan seperti beberapa hari yang lalu. Bukan pelukan, “Hei, kita sudah lama tidak bertemu!”, melainkan pelukan, “Ver, kapan ya aku ke Bandung lagi. Kapan ya, kita bisa ketemu lagi”. Saya dan Nia berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Vera yang sudah mau menemani kami menghabiskan akhir pekan di Bandung. Kota Susah Move On, begitu saya menjulukinya.

Begitu masuk kereta, pandangan saya hanya tertuju keluar jendela.

Setelah resmi berpisah dengan Bandung, saya sempat merasakan hampa sesaat. Saya bahkan butuh waktu dua hari untuk benar-benar kembali pada steady state saya, sampai akhirnya saya bisa dengan ikhlas mengucapkan:

See you, when I see you again, Bandung…

screenshot_20170205_062756
View yang sempat saya abadikan ketika Kereta Api yang saya naiki terus berjalan meninggalkan kota Bandung.
screenshot_20170205_063825
Percakapan kami di Whatsapp, setelah berpisah :’)
Advertisements

2 thoughts on “Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)

  1. Tabib Wahid Mawn Mut, tapi sekarang kayaknya udah gak tabib lagi sih (*mengomentari hal yang tidak penting*). Kangeeen ih, lain kali aku yang berkunjung ke Bogor yeah, kita menjajal menu vegetarian kota hujan hahahhaah (sama ke museum zoologi dan kebun raya ih, belum pernaaah *cupu)

    Like

    1. Oh itu ya nama Tabibnya? Serius lho aku jadi penasaran Ver. Terus aku jadi tiba-tiba inget juga nama Mesjid yang dibangun sama mualaf keturunan China itu… apa ya namanya?
      Hayu!!! Kamu ke Bogor, tapi pas ada libur panjang. Abis, dari Dramaga ke kota Bogornya lumayan butuh waktu tempuh yang lama, wwkwkwkwk, jadi suka mager hahahaha…
      Hayu ih, pokonya jadiin lho! 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s