Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)

Orang bilang, Bandung tidak sedingin dulu lagi.

Tapi, ketika waktu Subuh datang, dimana udara pagi saat itu masih segar-segarnya–belum tercemar oleh asap kendaraan bermotor, Bandung tetap saja terasa dingin. Saya rasa ini pun berlaku untuk seluruh daerah. Daerah dengan suhu yang lebih tinggi sekalipun, seperti Aceh. Makanya, sebagai pecinta cuaca dingin, saya sangat mengagumi waktu Subuh.

Alhamdulillaah, walau semalam saya larut berjam-jam dalam obrolan (nostalgia) bersama Nia dan Vera, saya masih diberikan kesempatan oleh Allaah SWT untuk bangun di kala Subuh menyapa. Karena hanya saya saja yang pada saat itu tidak berhalangan untuk shalat, maka saya langsung bergegas ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Segar. Sejuk. Menenangkan. Saya shalat, lalu setelahnya, saya termenung. Rasanya, masih belum percaya saja kalau akhirnya saya benar-benar kembali ke kota ini.

Bandung.

Eh, tapi, ini memang benar adanya. Memang nyata. Continue reading “Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)”

Advertisements