Bandung; The Feeling of The First Love (Day I)

img_20170122_1530151

Masih ingat di memori saya, sekitar sembilan tahun yang lalu, saya menangis hebat meninggalkan kota ini. Dengan earphone yang terus melantunkan lagu-lagu sedih, air mata saya terus mengalir… dan mungkin, itulah yang membuat Abang saya–yang waktu itu duduk tepat di samping saya–keheranan. Mungkin dia pikir, “Kenapa harus sesedih itu?” atau “Sesedih itukah?” atau justru “Lebay amat ini anak”. Tapi, saya seolah nggak peduli dengan pemikiran orang lain. Yang saya tahu, saya sedih, sedih sekali… meninggalkan kota tempat saya bertumbuh dan berkembang menjadi remaja tanggung.

Bandung.

Masih ingat juga di memori saya, betapa saya tidak mau berdamai sedetik pun dengan keadaan. Istilahnya, baiklah, mungkin raga saya pada saat itu berada di tempat baru sepenuhnya, tapi di sisi lain, jiwa saya tidak disitu. Karena yang saya pikirkan, hanya Bandung, Bandung, dan Bandung. Saya sibuk mengecek keadaan teman-teman saya di Bandung melalui akun-akun jejaring sosial mereka. Saya sibuk menelepon mereka. Mata saya tidak pernah lepas dari handphone–bahkan sampai larut malam sekalipun–hanya untuk mengecek apakah pesan singkat saya di Yahoo Messenger sudah mereka balas atau belum.

Dan masih ingat di memori saya, dimana kala itu, saya benar-benar memperjuangkan kebebasan saya untuk kembali ke Bandung. Ketika saya lulus SMA, saya meminta izin Mama untuk melanjutkan kuliah kembali ke Bandung. Namun, Mama bilang tidak. Campur aduk rasanya. Sedih, ingin memberontak, tapi apa daya? Saya tidak punya kemampuan untuk memberontak.

Setersiksa itukah? Mungkin tidak. Hanya saja, saya, dan pemikiran saya, sifat saya, serta semua yang ada pada diri saya ini terlalu naif. Dan mungkin, saking naifnya, sampai-sampai membuat Ayah saya (mungkin) merasa kasihan, lantas beliau mengiming-imingi saya dengan janji manis seperti “Kita akan ke Bandung setelah Kakak lulus kuliah”.

Hanya saja, saya dan Bandung itu bagai dua hal yang memang tidak meant to be. Ada saja yang membuat saya gagal untuk kembali ke Bandung. Pernah, saya ingat, suatu kali, Ayah sudah merencanakan bahwa kami sekeluarga akan pergi ke Bandung untuk menghadiri wisuda Abang. Semua sudah okay–sudah sedikit ada harapan bagi saya untuk kembali bertemu dengan kota kesayangan itu. Tapi, tiba-tiba… salah seorang dosen mengadakan ujian di hari yang awalnya akan menjadi hari keberangkatan saya dan keluarga ke Bandung. Terpaksa, dengan-sangat-terpaksa-sekali, saya harus rela untuk ditinggal Ayah, Mama, dan Adek. Mirisnya, ketika saya sudah mengorbankan hari yang saya nanti-nanti itu, sang dosen malah membatalkan agenda ujian.

Saya dan Bandung memang tidak akan pernah bertemu.

Saya pun tidak tahu sebenarnya apa sih yang membuat saya begitu ingin kembali ke Bandung? Kalau ada yang bertanya, saya benar-benar tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Lagipula, ketika saya pulang, belum tentu akan ada yang mau menemui saya. Jangankan ada yang mau, bahkan untuk taraf mengingat saya saja, mungkin tidak ada.

=====================================================================

“Mut, kamu ngerasa sedih nggak sih, kalau ke Bandung tuh?”

Setelah cukup lama merencanakan untuk pergi ke Bandung, akhirnya saya dan sahabat saya, Nia, benar-benar merealisasikan rencana tersebut. Kami berdua pergi ke Bandung pada hari Sabtu, 21 Januari 2017 dengan jasa travel, dan berencana untuk kembali ke tempat kami masing-masing pada hari Senin-nya, tanggal 23 Januari 2017.

Nia, Stannia Cahaya Suci, adalah sahabat saya sejak SD. Sebenarnya, kami berdua sudah saling mengenal sejak kelas 1 SD. Tapi, baru benar-benar dekat dan akrab saat kami menginjak bangku kelas 6 SD. Kami berdua, serta dua sahabat kami yang lainnya, Vera dan Nabila, membentuk that so called gank, named 4+EVER. Entah bagaimana awalnya kami bisa dekat satu sama lain, sampai kemudian membentuk gank dengan ambisi ingin menjadi big four di kelas. Alhamdulillaah-nya, kami benar-benar big four di kelas saat itu, haha.

“Kenapa gitu?” tanya saya, selang beberapa detik setelah Nia melayangkan pertanyaan itu kepada saya. Nia menjawab, “Karena kita cuma bentar disini”.

Hmmm.

Setelah resmi tiba di kota Bandung, saya dan Nia menunggu di pool travel yang kami naiki barusan, di daerah Pasteur. Sementara Nia disibukkan oleh urusan pekerjaan, saya berusaha menyibukkan diri dengan bermain gadget, sambil menunggu Vera datang menjemput kami. Vera, sahabat kami berdua, juga merupakan anggota 4+EVER. Dan, di rumah Vera-lah, kami akan menginap selama berada di Bandung.

“Veraaa!”

Saya refleks beranjak dari tempat duduk dan menyambut Vera yang baru saja datang. Vera tidak berubah, masih sama seperti belasan tahun dulu (begitu juga dengan Nia). Kami saling cipika-cipiki, berpelukan melepas kangen, lalu memutuskan untuk langsung meng-explore kota ini.

“Jadi, mau kemana dulu, nih?” tanya Vera.

Dengan suara kecil, saya menjawab, “Ke SD Istiqamah, yuk”

Sebenarnya sih, saya ingin mengunjungi banyak tempat di Bandung. Mulai dari tempat saya bersekolah dulu, ‘mantan’ rumah saya, dan beberapa tempat lain yang bersejarah–bagi saya tentunya–seperti Jalan Braga, Jalan Asia Afrika, dan lain-lain. Tapi, saya nggak boleh mendominasi. Jadi, saya putuskan hanya menaruh SD Istiqamah ke dalam list ‘Place(s) you must visit!’. Hanya SD Istiqamah. Tempat lainnya, saya serahkan kepada Nia dan Vera, karena untuk bisa berada di Bandung saja, saya sudah sangat senang dan bersyukur.

***

Saya, Nia, dan Vera pun tiba di SD Istiqamah. Ada banyak sekali mobil yang diparkir di sekitar gedung sekolah yang menyatu dengan bangunan masjid ini. Sepertinya sedang berlangsung acara semacam kajian. Karena susah mencari tempat parkir mobil, kami bertiga memutuskan untuk segera turun dari mobil dan membiarkan Bapak Supir memarkirkan mobil.

SD Istiqamah, seperti yang sudah saya sebut barusan, menyatu dengan bangunan masjid yang juga sama namanya–Masjid Istiqamah–dan terletak di tengah-tengah jalan. Iya, seperti bundaran. Di sekelilingnya ada banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Kurang lebih masih sama seperti dulu–ketika saya masih SD, namun kali ini jumlah pedagang kaki lima-nya lebih banyak. Dan, otomatis, jajanan ataupun makanan yang dijual juga semakin beragam.

“Ih, tukang cakue-nya masih sama nggak, sih?” ujar Nia, ketika kami akan melewati gerobak cakue di sisi kanan dari posisi kami saat itu.

“Ah, masa sih? Kamu masih hafal wajah mang-nya, ya, Nia?”

Dan ternyata, setelah diperhatikan baik-baik, memang benar. Pedagang cakue-nya masihlah orang yang sama. Malah, bukan hanya pedagang cakue. Penjual bandrek yang menjadi langganan Vera sewaktu SD dulu juga masih sama. Saat itu kita benar-benar amazed menyadari bahwa kami semua (saya, Nia, Vera, dan kedua pedagang kaki lima itu) bertumbuh bersama. Semakin tua.

Kami masuk dari pintu depan. Sejauh yang saya perhatikan, lapangan tempat kami biasanya melangsungkan upacara setiap hari Senin masih tampak sama, hanya saja lebih terurus sekarang. Saat menuruni tangga, barulah kami–khususnya saya dan Nia–terkaget-kaget melihat banyak sekali perubahan yang terjadi. Dan secara keseluruhan, saya pribadi merasa bangunan ini ditata menjadi semakin sempit? Hmm, atau karena saya yang sudah membesar, sehingga kesannya saja jadi menyempit dan mengecil? Entahlah. Namun, satu hal, saya bangga pernah merasakan bersekolah di sekolah swasta yang sistemnya semi-pesantren ini. Beberapa memori, seperti shalat Zhuhur berjamaah, membawa novel-novel Asma Nadia, menunggu jemputan, berebut tempat bermain dengan anak TK, ah… those beautiful memories.

sma20
Namanya Lapangan Merah. Kalau dulu, benar-benar hanya satu warna merah yang mendominasi. Gambar saya ambil dari sini. Nggak sempat foto, saking terlena dalam nostalgia, haha.
bagian-belakang-masjid-istiqomah
Bagian belakang SD dan Masjid Istiqamah. Kalau dulu, masih tandus. Glad to see a good changes like this. Oh iya, tangga menuju lantai dua itu menuju Masjid Istiqamah. Kalau dulu, kami sering bermain di aula atas. Gambar saya ambil langsung dari situs Yayasan Istiqamah

Setelah puas mengelilingi SD Istiqamah dan shalat Zhuhur di Masjid Istiqamah, kami melanjutkan perjalanan kami untuk pergi lunch. Lagi-lagi saya merasa amazed banget mendapati begitu banyaknya rumah makan yang ada di sekitar SD Istiqamah sekarang. Dan dari semua pilihan itu, kami memilih untuk mencoba menu-menu di Teras Sunda.

Ada banyak sekali kuliner yang ditawarkan di Teras Sunda. Dan ada juga menu yang vegan friendly, ini menjadi nilai lebih mereka untuk saya pribadi, yang sudah jarang mengkonsumsi daging. Hanya saja, entah kenapa di waktu yang sangat penting (waktu yang pas buat lunch dan lagi weekend), pihak Teras Sunda seolah tidak bisa membaca peluang. Dari sekian banyaknya kuliner yang ditawarkan, banyak sekali yang tidak ready. Saya pesan ini, tidak ready. Saya pesan itu, juga tidak ready. Akhirnya dengan sedikit kecewa, saya memesan Nasi Putih, Ayam Bakar Madu, Tumis Brokoli, dan Jus Semangka. Sementara Vera memesan Nasi Putih, Ayam Bakar Madu, dan Vanilla Latte. Dan Nia memesan Nasi Putih dan Ayam (Ayam apa ya, Nia? Hehe, saya lupa). Rasa kuliner yang ditawarkan, bagi saya, ya standar karena memang rata-rata warung Sunda memiliki cita rasa kuliner yang sama. Sedangkan untuk harga, saya sarankan kalau ingin menikmati masakan di Teras Sunda, akan jauh lebih tepat jika kalian sedang pergi bersama keluarga. Cocok sekali untuk keluarga. View-nya bagus, tempatnya nyaman, dekorasinya juga ciamik. Namun, jangan kaget apabila saat melihat bon/struk, kalian akan menemukan tambahan biaya, yang bisa sampai 20 ribuan. Itu adalah biaya untuk jasa service.

Setelah lunch, karena saya akan menemui teman SMA di BIP (Bandung Indah Plaza), Nia dan Vera (seolah) mengantarkan saya kesana dan menemani saya hingga saya bertemu dengan sang teman SMA, Diny Gustini, atau yang lebih sering saya panggil dengan Dinott. Selama menunggu Dinott datang, kami bertiga mejeng di lantai 3 dan duduk di depan Timezone. Kami bertiga menghabiskan banyak waktu untuk bercerita. Bercerita apa saja; mulai dari kekonyolan masa SD, kehidupan masing-masing yang kami jalani saat ini, dan lain sebagainya. Dan, seneng rasanya melihat kami bertiga tidak canggung sama sekali, terlebih mengingat sudah lama sekali kami bertiga tidak bertemu.

Tanpa terasa jam tiga sudah. Seseorang menelepon saya dengan nomor baru. Ternyata sang penelepon adalah Dei, alias Anggi, salah seorang teman saya juga waktu SMA dulu. Senang sekali rasanya ada juga teman SMA lain, yang dengan welcome-nya mau menemui saya. Dengan cepat saya menghampiri Dei yang masih berada di Lantai 1. Dei sekarang sudah berhijab. Kini, Dei sedang melanjutkan kuliah S2-nya, dan dia sudah semester 3. Setelah cipika-cipiki dan berpelukan melepas kangen, kami mengobrol sambil menunggu kedatangan Dinott.

Perlu saya ceritakan, Dinott ini adalah orang asing pertama yang saya kenal saat menginjak bangku SMA. Kami ditempatkan di kelas yang sama. Pada saat kelas 1 SMA, kami duduk sebangku. Lucunya, kami berdua sama-sama lahir di bulan Agustus. Dan Dinott ini adalah salah satu dari sekian banyak teman yang masih cukup intens berkomunikasi dengan saya dibandingkan dengan yang lain. Saya juga berterima kasih banget dia mau menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya, bahkan mengajak teman-teman yang lain untuk ikutan juga. 🙂

Nah, sesampainya Dinott, barulah kami berjalan menuju Food Court yang ada di Lantai 3. Entah bagaimana ceritanya, saya malah memesan makanan lagi. Padahal tidak begitu lapar sih, hanya saja saat melihat brosur yang ada gambar Kupat Tahu-nya, saya tergiur. Perlu diinformasikan bahwa Kupat Tahu adalah salah satu makanan bersejarah selama saya berada di Bandung. Kenapa? Karena dulu, sewaktu saya masih tinggal di daerah Gempol Kulon, Ayah sering sekali mengajak ke Pasar Cihapit dan sering sekali kami makan Kupat Tahu. Dan itu, enak banget. Sayangnya, Kupat Tahu yang saya pesan saat itu, saus kacangnya terlalu manis, walau overall, rasa kangen saya terobati sedikit.

Saya, Dei, dan Dinott bercerita tentang kesibukan masing-masing, teman-teman yang sudah menikah, bahkan karena obrolan itu pula lah, saya baru tahu kabar bahwa salah seorang guru di SMA Negeri 11 Bandung sudah berpulang ke Rahmatullaah. Beliau adalah Pak Wawan, dulu saya menjuluki beliau dengan Pak Wawan Ciwit, karena beliau suka sekali men-ciwit (mencubit) murid-murid yang tidak mentaati peraturan. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Semoga Bapak berada di tempat terbaik, Pak, di sisi Allaah SWT. Aamiin.

Sekitar jam 5, karena saya merasa tidak enak membuat Nia dan Vera menunggu, saya minta ijin untuk pamit dari Dei dan Dinott. Ternyata Dei dan Dinott pun tidak bisa lama-lama. Mereka juga sudah ditanyai oleh orangtua mereka. Akhirnya, dengan berat hati, saya berpelukan dengan mereka. Berharap semoga ini bukan pertemuan kami yang terakhir. Berharap bahwa ketika Dinott wisuda nanti, saya bisa menyempatkan diri untuk hadir.

***

“Kalian dimana?”, tanya saya, mengirimkan sebuah pesan singkat di grup Whatsapp khusus untuk saya, Nia, dan Vera.

Tak lama, baik Nia dan Vera, membalas pertanyaan saya. Haha, ternyata mereka masih saja mejeng di depan Timezone. Dengan cepat, saya berjalan ke tempat mereka berada. Karena sudah Maghrib juga, kami memutuskan pulang.

Overall, yang bisa saya katakan tentang BIP saat ini adalah, BIP jadi semakin kecil (this is a thing, kenapa semuanya menjadi mengecil di mata saya? haha). Dan sudah tidak adalagi Toko Gunung Agung yang menjadi langganan saya sekeluarga apabila sedang menghabiskan akhir pekan.

***

Kami tiba di rumah Vera. Aneh, padahal sudah lama sekali semenjak terakhir kali saya berkunjung ke rumahnya ini. Tapi, masih saja familiar bagi saya. Tidak banyak yang berubah, menurut saya. Saya dan Nia pun menginap di kamar Vera yang idaman banget (ingin juga punya kamar seperti itu). Untuk menutup hari pertama kami di Bandung, kami memesan makanan di WaLe dengan jasa Go-Food dan mengobrol sampai larut malam.

Bandung,

Entah kenapa saya merasa kota ini seperti rumah.

Hati saya, diri saya, pikiran saya, nyaman sekali, tenang sekali.

to be continueddd….

Advertisements

2 thoughts on “Bandung; The Feeling of The First Love (Day I)

  1. Kudu pisan euy ditulis “SEMAKIN TUA”? Hahahah. Tukang bandreknya masih sama kayak dulu…dari dulu udah tua, hahah.
    Udah kangen kalian lagi. Part 2nya ditungguuuuu ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s