Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part I)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Akhirnya, setelah sekian lama muncul lalu menghilang, kali ini saya muncul lagi untuk menge-share apa yang sudah saya dapat hari ini, setelah mengikuti kegiatan Seminar Al-Qur’an: Al-Qur’an-mu “Last Seen”-nya Kapan? di Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Kegiatan seminar ini diisi oleh dua pemateri utama, yaitu Ustadz Dr. Haikal Hassan dan Muzammil Hasballaah, S.T. Sesi pertama dimulai pukul 08.45 WIB. Saya ingat betul waktu tersebut karena Ustadz Dr. Haikal Hassan sudah meminta izin duluan untuk memberikan materi selama 30 menit, berhubung beliau juga memiliki agenda untuk mengisi kajian di Surabaya. Seperti apakah materi singkat namun menarik dan berkesan yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Haikal Hassan ini? In syaa Allaah berikut saya tuliskan ulang apa saja yang beliau sampaikan.

“Warisan Abadi Nabi Muhammad SAW: Kapan Terakhir Bergaul Dengannya?”

–Ustadz Dr. Haikal Hassan

Hari ini, Allah SWT telah membuka mata kita semua melalui sebuah peristiwa. Ya, baru-baru ini, seperti yang sudah kita tahu semua, telah terjadi kasus penistaan terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an dikatakan sebagai alat bohong; alat untuk membohongi. Bagaimana bisa ada seseorang ataupun kaum-kaum tertentu mengatakan hal seperti itu, sementara sahabat-sahabat Nabi begitu memperjuangkan segala yang mereka punya–bayangkan saja, ada yang dirobek dadanya, ada yang putus kedua tangannya (sebenarnya Ustadz menyebutkan nama sahabat-sahabat tersebut, hanya saja, karena minimnya ilmu saya mengenai sirah-sirah para shahabiyah, jadi saya kurang familiar dengan nama-nama yang disebutkan), hanya untuk membela dan mempertahankan Al-Qur’an!

Lalu, bagaimana dengan kita?

Ingatlah bunyi hadits yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a. bahwa ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an” (Hadits ini dirilis oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab paling shahih setelah Al-Qur’an).

Ingat pula, Al-Qur’an mampu memberikan syafaat bagi siapa saja yang membacanya, serta menjadi syifa’ (obat) bagi penyakit-penyakit hati. (Kemudian Ustadz Dr. Haikal Hassan membahas mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, lengkap dengan “bukti-bukti”-nya yang tersurat dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sendiri). Adapun mukjizat-mukjizat dari Al-Qur’an itu sendiri adalah:

1. Dalam Surah Al-Hasyr ayat 21.

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

2. Dalam Surah Ar-Raa’d ayat 31

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَل لِّلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِّن دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

3. Dalam Surah Al-Kahf ayat 109

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

4. Dalam Surah Luqman ayat 27

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dari keempat point yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an di atas, dapat kita bayangkan betapa dahsyatnya Al-Qur’an. Point-point selanjutnya dalam Surah Al-Waaqi’ah pun kembali menegaskan bahwa janganlah sampai ada keraguan pada Al-Qur’an. Kenapa? Mari kita coba fahami maksud dari ayat-ayat pada Surah Al-Waaqi’ah berikut.

5. Dalam Surah Al-Waaqi’ah ayat 75-81

(Ayatnya agak sulit saya copy paste, in syaa Allaah kalau sudah bisa akan segera saya lengkapi).

Maksud dari ayat-ayat dari Surah Al-Waaqi’ah tersebut adalah untuk menegaskan bahwa apa yang Allah katakan itu sudah pasti benar adanya. Maka, segala kandungan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan firman Allah SWT, juga sudah pasti benar adanya. Maka dari itu terdapat penegasan dalam ayat-ayat ini. Innahuu laqur’aanun kariim, sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang amat mulia. Fii kitaabin maknuun, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz). Llaa yamassuhuu illaalmuthahharuun, tidak ada yang menyentuh kecuali orang-orang yang disucikan. Tanziilun min rabbil ‘aalamiin, diturunkan dari Rabb semesta alam. Afabihaadzaal hadiitsi antum mudhinuun? Maka, apakah kamu menganggap remeh Al-Qur’an ini?

6. Dalam Surah Al-Anfal ayat 31

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَٰذَا ۙ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala”.

Lain halnya dengan orang kafir, yang masih saja ragu terhadap Al-Qur’an. Mereka berkata bahwa mereka sudah pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an sebelumnya, Al-Qur’an hanyalah dongeng semata, dan lain sebagainya. Maka, Allah pun menantang mereka untuk membuat kitab yang sama seperti Al-Qur’an. Sama, menurut yang saya fahami (berdasarkan cara penyampaian Ustadz Dr.Haikal Hassan), berarti sama dahsyatnya dengan seluruh mukjizat yang dimiliki Al-Qur’an. Kalau mereka bahkan tidak mampu untuk membuat yang sama seperti Al-Qur’an, maka Allah menantang mereka (kaum kafir) lagi untuk membuat satu surat saja. Kalau mereka juga tidak mampu, Allah kembali menantang mereka untuk membuat satu ayat saja. Hal ini dijelaskan dalam Surah At-Thuur, Surah Huud, dan Surah Yunus (detail ayatnya akan segera saya lengkapi, karena kendala saya yang agak lama kalau menulis hehe).

Tidak cukup sampai disitu saja. Allah juga menantang kaum kafir yang menentang Al-Qur’an itu untuk mengumpulkan semua jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Israa’ ayat 88.

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Bahkan, jika pun meminta pertolongan selain dari Allah, setelah dikumpulkan semua jin dan manusia, tetap saja, tidak ada yang mampu menyaingi Al-Qur’an (Surah Al-Baqarah ayat 23-24). Kenapa? Karena…

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ

Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Surah Yunus ayat 37).

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surah Al-An’am ayat 115).

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Surah Al-Hijr ayat 9).

Karena Al-Qur’an itu datangnya dari Allah, langsung dari kalimat-kalimat Allah, Dzat yang Maha dari Segala Maha. Dan tidak ada yang mampu menyaingi kedahsyatan Al-Qur’an, karena bagaimana tidak?! Sementara Al-Qur’an itu sendiri membahas tentang semua; matahari, bulan, alam semesta, kejadian-kejadian yang telah lampau, bahkan yang belum terjadi sekalipun!

Maka dari itu, kita harus lebih mendekatkan diri kita kepada Al-Qur’an. Memang, rasanya mudah sekali membaca Al-Qur’an. Terbukti, banyak sekali dari kita yang sudah khatam membaca Al-Qur’an. Namun, apabila ditanyakan, sudah berapa kali khatam membaca Al-Qur’an, lengkap dengan mentadabburi arti-arti dari setiap ayat-ayat Al-Qur’an tersebut? Bagaimana pula dengan pengkajian tafsirnya? Sudah khatam berapa kali? Mengapa kita perlu tahu artinya? Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kita tidak tahu Bahasa Arab, sedang dalam Al-Qur’an banyak sekali petunjuk yang Allah berikan sebagai pedoman hidup kita.

P.s.: Ceramah Ustadz Dr. Haikal Hassan ini ada beberapa yang saya tambahkan. Tujuannya supaya enak dibaca aja sih, biar terurut gitu. In syaa Allaah kalau soal ilmu yang disampaikan tidak ada yang tambah-tambahkan, ataupun saya kurang-kurangkan.

to be continued…

Advertisements

One thought on “Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s