Al-Qur’an mu “Last Seen”-nya Kapan? (Part II)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bersambung dari part sebelumnya, untuk part ke-II ini saya akan mencoba menuliskan materi-materi apa saja yang disampaikan pada sesi kedua, yang dimulai sekitar pukul 09.45 WIB. Yang menjadi pemateri untuk sesi kedua ini adalah Muzammil Hasballaah, seorang pemuda yang baru-baru ini viral di media sosial karena kemampuannya dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

Di awal sesi, Muzammil bercerita bahwa ia mulai belajar membaca Al-Qur’an dimulai sejak usia 3 tahun di lingkungan keluarganya. Sekitar umur 5 tahun, barulah Muzammil dimasukkan ke TPA. Sejak dulu, cerita Muzammil, dia senang sekali mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang diperdengarkan di masjid-masjid ketika waktu shalat akan tiba (saya kira kebiasaan seperti ini, hanya terjadi di Aceh, ternyata… untuk informasi aja nih, di Bogor, selama kurang lebih 4 atau 5 bulan saya berada disini, ayat-ayat suci Al-Qur’an juga sering diperdengarkan sebelum adzan dikumandangkan). Karena sering mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an tersebut, Muzammil juga menjadi senang menirukan gaya-gaya qori dalam membaca Al-Qur’an. Minat dan potensi untuk menjadi seorang qori yang sudah mulai tumbuh pada Muzammil kecil pun mendapat support dari sang Ibu yang ternyata juga seorang qori’ah. Sehingga, untuk memfasilitasi anaknya dalam menggali potensi tersebut, sang Ibu memasukkan Muzammil ke dalam program menghafal Al-Qur’an selama 3 tahun (untuk menghafal 30 juz). Jadi, ungkap Muzammil, setiap harinya dia harus menghafal minimal satu halaman. Hafalan itu selalu di-update setiap ba’da Maghrib dan satu jam setelah waktu ‘Isyaa.

Ketika Muzammil sudah terbiasa untuk terus dan terus memperbanyak hafalannya, Muzammil justru dihadapkan pada pilihan yang sulit: Melanjutkan kuliah, atau fokus dalam menghafal saja? Dilema yang dirasakannya itu ia ungkapkan kepada sang Ibu. Jadilah seseorang yang berhati Mekkah, sekaligus berotak Jerman“, begitulah jawab sang Ibu, yang membuat Muzammil memantapkan pilihannya untuk meneruskan kuliah ke luar Aceh (seperti yang sudah kita ketahui, Muzammil berkuliah di ITB Jurusan Arsitektur), namun tetap, tanpa mengesampingkan Al-Qur’an. Di setiap kesempatan, di sela-sela sibuknya dunia perkuliahan, Muzammil terus berusaha untuk istiqamah. Karena,

Iman itu bisa naik-turun. Naiknya iman itu karena ketaatan. Sedang turunnya iman itu disebabkan oleh kemaksiatan

Begitulah yang dituturkan Muzammil. Sehingga dalam seminggu sekali, ia mencoba sebisa mungkin menyempatkan diri untuk mendatangi seorang syeikh, yakni Syeikh Yazid Al-Haqqi, untuk mendengarkan dirinya membaca Al-Qur’an serta mengoreksi bacaannya apabila ada yang salah, baik itu makhrijul huruf ataupun tajwidnya. Tidak hanya itu saja, ungkap Muzammil. Dia juga rajin mendatangi kajian Ustadz Tengku Hanan Attaki (yang juga berasal dari Aceh) di Masjid Al-Lathiif. Ia selalu membawa kamera dan tripod-nya, hanya untuk merekam kajian Ustadz Hanan. Bahkan, sebelum ia mengupload video-video dirinya sendiri, bisa dilihat pada akun YouTube-nya, ada banyak sekali video kajian Ustadz Tengku Hanan Attaki yang diuploadnya.

Muzammil melanjutkan ceritanya lebih detail tentang apa bedanya qira’ah dengan tilawah, murottal dengan mujawwad. Qira’ah adalah membaca Al-Qur’an, namun fokus terhadap bacaan. Sedangkan tilawah, selain fokus dengan bacaan, makna dari apa yang dibaca juga dikaji (ditadabburi). Murottal adalah cara membaca Al-Qur’an dengan tartil (perintah untuk membaca Al-Qur’an secara tartil terdapat pada Surah Muzammil ayat 8). Sedangkan mujawwad adalah cara membaca Al-Qur’an yang lebih lambat (biasanya kita dengar dari cara membaca imam-imam pada saat shalat berjamaah).

Adapun delapan irama mahsyur dalam membaca Al-Qur’an.

  1. Irama Qurdi. Irama Qurdi ini irama yang paling Muzammil sukai. Iramanya sedih sekali, sangat menyayat hati. Beberapa diantara qori yang juga sering melantunkan ayat Al-Qur’an dengan irama ini adalah Ustadz Tengku Hanan Attaki dan Thaha Al-Junaidi.
  2. Irama Nahawwand. Irama ini sedikit mirip dengan irama Qurdi (tapi saya lupa dimana bedanya T_T dan ternyata nggak kerekam pas bagian ini). Beberapa diantara qori yang sering menggunakan irama ini adalah Syeikh Mishary Rashid Al-Afasy.
  3. Irama ‘Ajam. Irama ini sering disebut sebagai irama yang muncul bukan dari Arab. Iramanya terdengar lebih riang dari dua irama sebelumnya, cocok dilantunkan untuk ayat-ayat tentang shiroh-shiroh para nabi, dan cocok diperdengarkan oleh anak-anak. Beberapa qori yang sering menggunakan irama ini adalah Ustadz Abu Usamah, Lc.
  4. Irama Hijjaz. (Penjelasannya ke-skip T_T). Contoh qori yang sering menggunakan irama ini adalah Syeikh Hani Ar-Rifai.
  5. Irama Bayaati. (Penjelasannya juga ke-skip T_T).
  6. Irama Shaba. Irama ini yang paling sedih diantara semua irama. Biasanya imam-imam di Timur Tengah itu sering membawakan irama Shaba ini untuk ayat-ayat tentang azab, ataupun sering dibawakan ketika berdoa (Tingkat sedihnya itu bahkan sampai bercucuran air mata, begitu ungkap Muzammil).
  7. Irama Sika. Irama ini sama seperti irama Thala’al Badru.
  8. Irama Rast. Contoh qori yang sering menggunakan irama ini Abdurrahman As-Sudais. Iramanya riang, sama seperti Irama ‘Ajam, hanya saja pengucapannya lebih tegas.

Setelah banyak bercerita (bukan bercerita sih, saya pribadi merasa Muzammil ini lebih banyak membagi ilmu yang dia punya, which is very kind of him. May Allah bless you, always, Muzammil) tentang Al-Qur’an, Muzammil mengajak kita semua untuk menjadi Ahlul Qur’an. Siapakah itu Ahlul Qur’an? Yakni merekalah orang-orang yang istiqamah membersamai Al-Qur’an. Bukan lantas membaca, lalu sudah. Bukan lantas sudah hafal 30 juz, lalu sudah. Bagaimana agar kita bisa menjadi Ahlul Qur’an?

(Tadinya mau saya sisipkan video Muzammil Hasballah membacakan Surah Al-Mu’minuun, tapi karena can’t be uploaded because file doesn’t support, jadi yang mau lihat klik aja di sini  yaaak!)

  1. Niatkan semua hanya karena Allaah. Harus ikhlas.
  2. Kalau niatnya sudah murni hanya karena Allaah, in syaa Allaah, akan Allaah tuntun jalan kita.
  3. Pastikan untuk menguasai Tahsin sebagai awal dari langkah kita menjadi Ahlul Qur’an.
  4. Carilah lingkungan yang terus memotivasi kita untuk menjadi Ahlul Qur’an.
  5. Manfaatkan fasilitas audio dan visual, tergantung diri kita lebih cenderung kemana.

Dan sebagai tambahan, saya banyak sekali sudah melihat banyak orang yang sukses karena selalu berusaha mengakrabkan dirinya dengan Al-Qur’an. Sebut saja Wirda Mansur, putri Ustadz Yusuf Mansur. Wirda sendiri yang menceritakan, dia bisa naik pesawat VIP, keluar negeri dibiayain, dan lain sebagainya. Lalu, untuk Muzammil, seperti yang ia ceritakan, dengan keakrabannya bersama Al-Qur’an, ia mampu menjalani dan menyelesaikan kehidupan perkuliahan yang super sibuk dan tidak mudah itu dengan Alhamdulillaah tepat waktu. Bahkan kini, ia bekerja sesuai dengan passion-nya. Di samping menjadi konsultan untuk perusahaan swasta yang bergerak di bidang Arsitek, Muzammil juga menjadi guru mengaji. Qadarullaah, Allah menakdirkan kedua hal itu berjalan beriringan. Tempat kerja Muzammil itu tidak jauh dari masjid tempat dimana ia biasa mengajar ngaji. Sehingga, ungkap Muzammil, ia bekerja lebih fleksibel. Bahkan ia masih sempat mengikuti kajian rutin suatu komunitas yang ia ikuti, yakni Komunitas Pemuda Hijrah, yang setiap minggunya rutin mengadakan kajian.

sekian.

P.s.: Saya pribadi mohon maaf kalau ada penulisan yang tidak sesuai, karena saya masih awam banget dengan bahasa Arab. Saya masih dangkal sekali ilmunya. Jadi mohon dimaafkan. Akan saya coba untuk melengkapi bagian-bagian yang masih kosong lalu postingan ini diupdate kembali nantinya, in syaa Allaah ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s