Belajar dari Mama

Sebenarnya, sudah lama ingin membagikan cerita ini. Yah… walaupun nggak ada yang peduli juga, nggak bakal ada yang baca, tapi… mengingat sebuah update-an status seorang teman, dimana dia juga mengutip perkataan orang lain, kurang lebih seperti ini: “Kita nggak tahu di titik mana kita akan menginspirasi orang lain, maka teruslah berkarya”, maka saya rasa nggak ada salahnya saya membagikan cerita ini.

Jadi, ceritanya, bulan Ramadhan kemarin (nggak kemarin dalam arti kata yang sebenarnya, haha), saya dan keluarga ikut perjalanan bisnis (kalau pakai kata bisnis, seolah tinggi sekali maknanya. Jadi biar nggak salah paham, bisnis Ayah disini adalah bisnis dirinya sebagai seorang distributor pupuk) Ayah ke Medan. Namanya juga ikut perjalanan bisnis, jadi kami memang nggak berharap banyak akan dibawa jalan-jalan. Jadilah, pada pagi itu, saya, Mama, dan Adek berdiam diri di tempat menginap, di Mess Pemda Aceh.

Selang beberapa jam, handphone Mama berdering, memecah kesunyian—atau lebih tepatnya kesuntukkan kami bertiga. Saya meraih handphone Mama, melihat sebentar siapa yang menelepon, lalu memberikannya kepada Mama. Adalah Cik Lili, adik sepupu Mama, yang menelepon.

Sedikit cerita tentang Mama dan Cik Lili, keduanya sangat sangat akrab. Sudah seperti kakak adik kandung saja. Mama dan Cik Lili memang sering curhat-curhatan walau sebatas via telepon. Kalau sudah bercakap-cakap, bisa sampai berjam-jam.

Dan pagi itu, saya mencuri-dengar pembicaraan mereka. Nggak jelas juga awalnya apa, tapi tiba-tiba pembicaraan mereka tertuju pada topik kuliah. Dan mereka membicarakan saya.

Mungkin, Cik Lili saat itu bertanya, “Bakpo Tia, niang? Alah ditarimo inyo kuliah? Dimano?”. Yang artinya, “Bagaimana si Tia, kak? Apa sudah diterima dia kuliah? Dimana?”

Sehingga Mama pun membalas, “Balun lai, Li. Kapatang alah pengumuman ITB, nakdo lewat. Disuruh tes lai inyo, gelombang kadua ko. Kini ko pun tangah mananti pengumuman IPB, ya mudah-mudahan lah Li, lewat inyo di IPB ko”. Yang artinya, “Belom lagi, Li. Kemarin sudah pengumuman ITB, tapi nggak lewat. Disuruh ikut tes lagi dia, gelombang kedua ini. Sekarang pun lagi nunggu pengumuman yang dari IPB, ya mudah-mudahan lah Li, lewat dia di IPB”

Kemudian pembicaraan mereka terus berlanjut. Berlanjut, kepada cerita masa lalu Mama yang ternyata juga mengincar IPB sebagai tempat ia melanjutkan pendidikan selepas lulus SMA.

Mama bercerita, dulu, selepas SMA, seorang guru menawarkannya untuk melanjutkan kuliah ke IPB. Guru tersebut bahkan bilang, “Ambo bantu kau, Pa. Bek ko, kau les jok ambo”, alias, “Saya bantu kamu, Pa. Nanti kamu les sama saya”.

Continue reading “Belajar dari Mama”

Advertisements