Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.

Roda iyo baputa, tibo di awak, pacah ban!

Saya sering sekali melihat, atau mendengar “pepatah” ini pada akun media sosial teman, yang rata-rata berasal dari kampung yang sama dengan saya: Aceh Selatan. Dari segi bahasa saja, bisa lah ditebak kalau pepatah itu kerap kali diucapkan oleh suku Aneuk Jamee, yang memang, bahasa daerah mereka agak-agak mirip dengan bahasa Minang.

Awalnya, meskipun tahu arti dari Aneuk Jamee proverb —yah sebut saja begitu– saya malah nggak faham apa maknanya. Kalau diartikan, kurang lebih begini artinya : Roda sih iya muter, tapi pas sama gue, bukannya muter eh malah pecah!

Tapi sekarang… saya tahu makna dibalik satu kalimat itu.

Kalian tentu sering mendengar orang-orang berkata atau berpendapat kalau kehidupan itu bagai roda. Terus berputar. Kadang di bawah, namun nggak bakal selamanya dibawah. Suatu saat ia akan merasakan juga ke atas, namun, nggak selamanya juga ke atas. Begitu juga kehidupan. Kadang kita mengalami nasib apesss banget, tapi tenang, itu cuma bentaran aja kok. Karena, yakin deh, bakal ada luck yang menghampiri. Namun, ya nggak jamin juga tuh bakal lucky terus ke depannya.

Nah, tapi pepatah ini mungkin muncul di benak orang-orang yang nggak sabaran. Mereka nggak terima. Kenapa sih idup gini-gini aja? Kenapa apes banget dah, sementara kayanya orang gampang banget untungnya?! Makanya, dibilang, Roda sih iya muter, tapi giliran kena gue.. bukannya muter, malah pecah. Udah mah apes, ya makin apes lagi.

Saya pernah kok, saking geramnya sama kehidupan yang terkesan nggak fair ini, melontarkan ucapan itu. Roda iyo baputa, tibo di awak, pacah ban! Alah mak oy!

Kalau berbicara soal kegagalan. Saya selalu pede, pasti saya lebih banyak punya pengalaman gagal dibanding kalian. Bahkan kalau diingat-ingat, sejak kecil saya udah harus nerima dengan lapang dada yang namanya kegagalan.

Mulai dari gagal masuk salah satu SMP favorit di Bandung dulu. Kemudian gagal lagi ngebujuk dan ngeyakinin orang tua buat diijinin masuk ke SMA lumayan favorit juga di Bandung. Gagal lagi meyakinkan orang tua saya bisa juga kok mandiri di Bandung, ketimbang harus menghabiskan masa setahun terakhir SMA di Banda Aceh dengan orang baru. Kemudian gagal lagi harapan saya untuk kembali ke Bandung untuk mengambil kuliah jurusan bahasa asing yang begitu saya minati.

Apakah berhenti sampai disitu saja? Nggak, masih terus berlanjut.

Yang paling menampar saya ada dua kegagalan, yang untuk saat ini saya labeli sebagai kegagalan terbesar. Pertama, saat sidang Tugas Akhir. Dan yang kedua, baru-baru ini, saya harus benar-benar merelakan Bandung. Saya ditolak sama ITB (for your information, nggak cuma sekali, tapi dua kali).

Saya akan cerita kegagalan terbesar saya yang pertama. Yang sampai sekarang, kalau diingat, masih bisa aja menampar saya. Membuat saya berkaca-kaca dan terdiam penuh penyesalan.

Kalau bercerita soal perjuangan dalam meraih titel sarjana, pastilah macam-macam ceritanya. Ada yang malah ekstrim, sampai lupa akan segala norma, sampai ada kasus pembunuhan terhadap dosen pembimbing segala. Ada juga yang cenderung menyimpan bebannya sendiri kemudian pada akhirnya merasa nggak sanggup lagi menanggung beban itu, sehingga akal tidak sehatnya berpikir bahwa mati lah jalan pintasnya. Ya Allah. 

Saya sendiri, bisa dibilang cukup beruntung dibandingkan yang lain. Di awal-awal pengerjaan TA, Alhamdulillaah saya diberikan kemudahan melalui Mama yang getol tiap hari nagih “Kapan naik proposalnya? Kapan naik hasilnya?” sehingga mau nggak mau, ya berkutat juga terus sama TA. Kalau boleh kepedean, saya yang paling getol ngebel dosen pembimbing I saya yang super sibuk.

Mungkin ini juga berkat mengikuti anjuran dosen pembimbing II yang kerap kali bilang, “Sering-sering tahajjud, dhuha, sama shadaqah” sehingga jalannya dipermudah sama Allah. Saya inget ada seorang temen bilang begini sama saya, “Mut, enak banget liat kamu seminar. Adem aja. Dataaar aja. Ga ada yang protes, nggak disikat” (inilah The Power of Tahajjud+Dhuha+Shadaqah, karena kalau kalian tahu saya belajar nggak nyampe yang jungkir balik, bisa dipraktekin sendiri).

Sampailah datang hari itu. Hari dimana tinggal selangkah lagi saya bisa mendapat titel sarjana. Selangkah lagi, lho. Semakin dekat, semakin nggak sabaran. Saya malah terkesan memaksa para dosen, gimana cara deh, saya bisa sidang seminggu lagi setelah seminar hasil. Waktu itu memang saya berada dalam kondisi dimana saya mikirin soal Ayah yang sudah pensiun, dengan gaji pensiunan yang nggak seberapa. Saya nggak tega aja gitu membiarkan beliau harus membayar uang semesteran untuk semester depan dengan full, padahal saya hanya tinggal sidang. Apalagi, saat itu, Abang saya belum mendapat gaji full karena belum prajab (atau apalah namanya) sehingga masih harus dibiayai Ayah juga.

Saya pasrah. Tapi pasrah saya bukan pasrah yang baik. Saya cenderung “let it be oh let it be“. Yang terjadi ya terjadilah. Seminggu diburu buat belajar ini itu?! Nggak mungkin! Saya lupa kalau Allah itu Mahamampu. Saya kelewat pasrah dan stress mikir gimana sidang nanti tanpa memaksimalkan apa yang bisa saya ikhtiarkan. Ini mah, belajarnya juga masih kepikiran gimana sidang jih gimana sidang jeh. Eh, dari shalat tahajjud, dhuha, ataupun shadaqah nya juga nggak saya gencarin.

Di hari sidang, saya inget banget. Mama dan Ayah saya yang nganterin parcel buah-buahan untuk para dosen berpesan sambil tersenyum. Senyuman tulus, yang saya suka. “Jangan nervous kak, berdoa ya”, begitu kata mereka. Tapi apa yang saya lakukan? Berdoa nggak, nervous malah mode MAX.

Akhirnya, semua yang ditanya dosen penguji, terasa asing buat saya. Entah bahasa mereka yang terlalu tinggi, atau kapasitas otak saya yang nggak mampu menerjemahkan apa maksud mereka. Bahkan, untuk pertanyaan paling mudah, saya nggak bisa jawab. Kalau nggak ada bantuan dari bapak dosen pembimbing II, habislah saya. Sejak hari itu, saya begitu tenar di milis para dosen. Seorang senior menceritakan ini sama saya. Sontak saya menangis sejadi-jadinya. Saya masih terbayang wajah Ayah sama Mama yang penuh harap.

Semua orang nggak ada yang tahu soal ini. Yang mereka tahu, waktu diumumkan, nilai sidang saya A. Padahal dalam hati, saya bergejolak. Ngerasa nggak pantas aja saya dapat A. Rasanya pengen banget memperbaiki keadaan ini. Apa aja deh, sidang ulang kek, kalau bisa. Supaya berkah.

Sejak saat itu, saya sulit sekali mencari rekom dosen yang padahal amat saya perlukan untuk melamar kerja, atau melamar beasiswa. Dosen pembimbing I mungkin menganggap saya nggak kompeten, sehingga, untuk apa diberikan rekomendasi? Yang ada nanti bakal membuat beliau malu aja. Beliau memang nggak salah, memang iya kok, dari sidang saja saya sudah separah itu. Gimana bisa beliau yakin kalau saya mampu melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi?

Namun, bersyukur, Allah seolah bilang, “Jangan nyerah dulu. Kamu nggak inget dulu kamu gagal karena apa? Karena kamu kelewat pasrah, udah nyerah duluan. Kamu nggak mau nyoba”. Dan Alhamdulillaah, seenggaknya masih ada dosen pembimbing II saya yang selalu welcome untuk dimintai rekom (nggak tahu juga sih, bisa jadi beliau juga keki, tapi Pak, saya benar-benar terima kasih sama Bapak! Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya untuk Bapak).

Tapi apakah kemudian semua kegagalan yang pernah saya dapatkan itu berakhir, lalu berganti dengan tercapainya apa-apa yang saya inginkan?

Nggak, kok.

Saya masih gagal saat ikutan seleksi CPNS (padahal beberapa poin lagi bisa lulus, hiks). Lalu gagal seleksi OJK. Gagal seleksi PPS sebuah bank konvensional dengan menanggung malu (seorang senior, entah sengaja atau tidak, mengabarkan saya lulus padahal nggak). Gagal seleksi ODP sebuah bank konvensional. Kemudian gagal terhormat dalam seleksi MDP bank syariah (kenapa terhormat, karena ternyata saya lulus, namun info itu nggak sampai di saya. Memang benar kalau Allah belom ridho kita ke situ, apapun cara, nggak bakal pernah kita kesitu). Gagal lagi mendapatkan beasiswa dari LPSDM.

Terbayang nggak, sudah berapa banyak yang Ayah korbankan untuk saya? Karena kebanyakan, seleksi seperti CPNS dan OJK, diselenggarakan di Medan. Sehingga harus mengeluarkan ongkos PP Banda-Medan lagi. Namun, yang namanya Ayah, ketika hati beliau bilang jangan nyerah sampai benar-benar ada hasil, beliau nggak akan berhenti. Kata Ayah, “Kalau perlu Ayah berhutang sekalian karena, Ayah ingin, anak Ayah punya masa depan yang lebih bagus dari Ayah. Kalau Ayah cuma tamatan S1, minimal kamu, Abang, dan Adek S2”

Dan Ayah sudah membuktikannya perjuangannya berhasil untuk Abang. Maka, Ayah juga yakin, akan berhasil dengan saya.

Walau sekarang status saya sudah mendapat beasiswa LPDP, ternyata perjalanan saya untuk bisa melanjutkan studi masih panjang. Saya harus ikut kegiatan Persiapan Keberangkatan di Depok (November tahun lalu), ikut TPA di Jakarta, seleksi di berbagai universitas sampai akhirnya ada universitas yang mau kasih saya LoA.

Dan sampai saat ini, saya belum dapat LoA. ITB menolak saya, sampai dua kali. Desperate? Hopeless? Jangan tanya. Saya nyampe nggak bisa berkata-kata, karena terus menyesali nasib. Bahkan ketika Abang nelepon, saya yang biasanya bisa menyembunyikan tangisan, pada akhirnya harus menangis juga. “Adek nangis?”, begitu tanyanya. “Nggak apa itu. Berarti emang bukan kesempatannya disitu, dek”, hiburnya kemudian.

Saya, jujur, nggak tahu sampai kapan akan terus bertemu dengan kegagalan. Tapi ketika jalan hidup nggak semulus yang diharapkan, pada akhirnya saya menyadari (atau lebih tepatnya dibuat sadar), saat itulah sebenarnya  Allah ingin kita kembali pada-Nya. Allah ingin kita memperbaiki diri, Allah ingin kita kembali menjadikan dia satu-satunya harapan, Allah ingin kita sabar dalam penantian, dan… seperti yang selalu murabbi saya bilang dalam liqo, “Kakak doakan yang terbaik ya Muti. Karena belum tentu kalau Kakak doakan Muti lulus ITB, itu yang terbaik untuk Muti. Ya kan? Namun Kakak juga berharap yang terbaiknya itu, Muti bisa lanjut sekolah lagi”.

Iya. Allah lebih tahu yang terbaik buat saya, buat kita semua para hamba-Nya. Allah lagi nyimpen nih, sesuatu yang bakal menggantikan segala kesulitan yang pernah saya rasain. Bahkan Allah menyatakan semuanya dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6 (plus ayat 8), Al-Baqarah ayat 186, 216, dan 286, Az-Zumar ayat 53, At-Tahrim ayat 8 dan masih banyak lagi.

Jadi, duhai diri, kalau lah memang beasiswamu harus hangus karena tak kungjung mendapat LoA (walau kita tentu sama-sama berharap jangan sampai hangus), ikhlaskan aja. Terima aja. Kalau lah bukan jalan kamu untuk melanjutkan studi, masih ada banyak jalan yang akan Allah buka untuk kamu. Jadi penulis mungkin, jadi pembuat kue mungkin, atau ditakdirkan membuka warung makan sehat mungkin. Cuma Allah Yang Maha Tahu. Apa yang terbaik buat kamu. Ikhlasin. Ikhlas. Ikhlas. Walau susah, belajar. Ikhlas.

Fotonya dijepret sama Ainal (Bagus ya?). Quotesnya punya Rumi.

P.s. Maaf ya kalau blog ini mulai dipenuhi kegalauan, banyak renungan, saya makin yakin ini ada kaitan dengan quarter-life crisis yang datang dari Allah. Sungguh Allah ingin kita menjadi hamba-Nya yang berpikir.

Dan by the way, terima kasih untuk semangat dari banyak teman. Terutama untuk yang ini, yang bikin terharu banget bacanya.

Dia temen baik saya dari SD. Beruntung banget punya temen kaya dia. Selalu kebawa energi buat gimana cara selalu produktif. Ciye, tipikal temen yang so sweet kan saya ini? *padahal dibaca juga nggak hahaaha

Advertisements

4 thoughts on “Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.

  1. si mutii ni ya…hm, sudah kuduga! Dia lagi proses beasiswa-beasiswi *apaitu. Mutiiii, keep fighting! ka ai gak tau sejauh mana proses itu sekarang, yang jelas dalam hal ini muti udah berproses hingga sedikit lagi tercapai. Muti tau gak? Apa yang paling Allah suka dari umatnya ketika dia ingin dan butuh sesuatu? Merelakan. Melepaskan. Percaya bahwa Allah gak tidur dan Allah bisa melunakkan hati manusia dengan cara yang tak terduga. Jangan lepas doa ya dek, apapun yang terbaik pasti muti dapatkan, kadang yang terbaik itu bisa jadi di Jerman, Amrik, Jepang, Korea atau dimanapun itu. InsyAllah muti bisa!

    Like

    1. Wah beasiswa juga ada jenis kelamin kak ya wkwkwk (nyampe ditulis beasiswa/i) 😂😆
      Iya kak, muti lagi belajar ini untuk ikhlas. Semoga Allah kasih ridho-Nya supaya muti lulus untuk tahap ini. Kemarin juga dapet pencerahan dr blog temen, “Lessons in life will be repeated until they are learned”. Jadi khusnudzon aja, mungkin sejauh kegagalan yg terus berulang ini, muti ga bener2 belajar. *apa sih jadi curhat lagi wkwkwk
      Sip kakaaaak, makasih semangatnya! Semangaaat!

      Like

  2. Semua ada hikmah nya Muti … Saya juga gitu kisah hidup saya juga ajaib … Hidup itu banyak Lika liku … Terkadang yang kita inginkan tak semuanya dapat terlaksana … Insyaallah diberi alternatif lain yang lebih baik oleh Allah SWT …. Amin … Tetap semangat ya

    Like

    1. Halo kakak Meuthia (namanya sama lho), hehe. Iya, kak, semuanya pasti Allah SWT kasih buat muti belajar. Semoga ya kak dikasih yang lebih baik. Aamiin. Yang terbaik buat kita semua 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s