Brownies for Vegan

Setelah postingan sebelumnya agak-agak mellow, menye-menye, dan mostly isinya curhatan yang random banget, maka kali ini saya akan posting sesuatu.

Brownies for Vegan.

Saya mau berbagi pengalaman saya dalam membuat brownies yang cocok buat dimakan oleh siapa saja–yang vegan saja bisa makan, apalagi yang nggak vegan.¬†

Tapi, tunggu. Apa sih vegan itu?

Vegan, sejauh yang saya tahu, adalah orang yang ogah mengkonsumsi produk hewani dalam bentuk apapun. Mereka nggak makan daging, nggak makan ikan, bahkan… mereka nggak mau pakai jaket dari kulit hewan. Sampai segitunya, ya? Iya, memang sampai segitunya.

Menarik ya kayanya membahas soal vegan dan gaya hidupnya? Saya pribadi sih tertarik banget, in syaa Allah saya akan bikin postingan terpisah untuk membahas soal itu.

Tapi sekarang, saya cuma mau berbagi cerita atau pengalaman saya dalam membuat brownies yang bisa dikonsumsi juga oleh para vegans. Kenapa? Karena brownies ini dibuat tanpa menggunakan bahan-bahan yang berasal dari hewan, seperti: telur, susu, dan lain sebagainya. Dan.. ah iya, resepnya terinspirasi dari resep Chef Farah Quinn yang saya ulik sedikit supaya gluten free (apalagi ini? Hahaha. Mau makan aja kok repot ya? Iya saya mah gitu orangnya, mau makan tapi poin sehatnya harus tetep dapet :p). Continue reading “Brownies for Vegan”

Advertisements

Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.

Roda iyo baputa, tibo di awak, pacah ban!

Saya sering sekali melihat, atau mendengar “pepatah” ini pada akun media sosial teman, yang rata-rata berasal dari kampung yang sama dengan saya: Aceh Selatan. Dari segi bahasa saja, bisa lah ditebak kalau pepatah itu kerap kali diucapkan oleh suku Aneuk Jamee, yang memang, bahasa daerah mereka agak-agak mirip dengan bahasa Minang.

Awalnya, meskipun tahu arti dari Aneuk¬†Jamee proverb —yah sebut saja begitu– saya malah nggak faham apa maknanya. Kalau diartikan, kurang lebih begini artinya : Roda sih iya muter, tapi pas sama gue, bukannya muter eh malah pecah!

Tapi sekarang… saya tahu makna dibalik satu kalimat itu. Continue reading “Duhai diri; sebuah nasehat untuk diri sendiri.”

Postingan pelepas rindu.

18 Juli 2016.

Hari ini, tepat seminggu setelah libur lebaran usai. Iya, libur lebaran disini usai tanggal 10 Juli yang lalu. Anak-anak sekolah, mahasiswa, pegawai kantoran, semua bersiap untuk kembali kepada kenyataan. Back to reality, orang bilang. Tapi seminggu yang lalu, euforia Lebaran itu masih terasa. Walau dikata sudah harus balik kerja, masih ada juga yang santai-santai karena sengaja mengambil jatah cuti yang lebih panjang untuk bisa menikmati momen-momen spesial bersama keluarga. Seperti yang dilakukan Abang saya.

Saya tinggal di sebuah perumahan yang pada umumnya terdiri dari keluarga-keluarga yang sudah berusia lanjut. Maklum, setiap kali saya ditanya, “Tinggal dimana?” kemudian menjawab dengan membeberkan alamat rumah saya, orang-orang sudah tahu bahwa daerah tempat tinggal saya itu masuk dalam kategori perumahan tua (sudah lama ada). Jadi, khususnya di lorong tempat saya tinggal ini, setiap kali lebaran akan terasa begitu ramai. Masing-masing rumah, akan kedatangan anak dan cucunya dari luar daerah, atau dari luar kota, bahkan mungkin dari luar negeri.

Sejak kemarin sore, keramaian itu hilang. Lorong ini menjadi kembali pada kondisi semula. Sepi dan kesepian. Begitu juga yang terjadi pada rumah yang saya tempati ini. Continue reading “Postingan pelepas rindu.”