Lingkaran cinta itu bernama halaqah.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sekitar tahun 2016 awal, ketika memilih resign dari kerjaan sebelumnya untuk mempersiapkan ujian masuk ITB–walaupun gagal juga tetep hehe, saya memiliki banyak waktu luang. Anehnya, tidak seperti kebanyakan orang lain yang mengeluh karena merasa tidak produktif saat memiliki banyak waktu luang, saya malah merasa sebaliknya. Di mata orang mungkin saya melakukan hal-hal yang tidak produktif, tapi saya senang karena bisa memberikan healing moment untuk diri sendiri yang (entah kenapa) selalu merasa tertekan sejak lulus kuliah. Saking terlalu banyaknya waktu luang, saya pun mulai terpikir untuk ikut liqo’ lagi. Entah apa yang mendorong saya sebegitu kuatnya sampai-sampai tanpa pikir panjang lagi saya langsung menghubungi murabbiah saya dulu, namanya Kak Ulil. Sayangnya, Kak Ulil sudah tidak menetap di Banda Aceh lagi. Kak Ulil sudah memiliki pekerjaan sebagai dosen di suatu perguruan tinggi yang saya lupa nama dan tempatnya dimana.

Saat itu, saya berpikir akan begitu awkward kalau saya menjadi “pendatang baru” pada sebuah kelompok liqo‘ yang sudah berjalan. Dimana isinya adalah orang-orang yang tidak saya kenal, termasuk murabbiah-nya nanti. Kak Ulil sudah memberikan kontak murabbiah saya yang baru, tapi saya masih ragu untuk menghubunginya karena pemikiran-pemikiran ini. Tapi, lagi-lagi, entah apa yang mendorong diri ini dengan begitu kuat, sampai-sampai bisa melawan diri sendiri. Saya pun menghubungi murabbiah baru saya itu, namanya Kak Cut. Continue reading “Lingkaran cinta itu bernama halaqah.”

Advertisements

Antara Marie Kondo, KonMari Method, dan The Life-changing Magic of Tidying Up

Awal mula kenapa bisa tertarik baca buku ini adalah semenjak nama Marie Kondo makin dikenal banyak orang. Saya berpikir, “Bukankah KonMari itu sudah cukup lama? Kenapa baru booming sekarang?”, sambil berusaha mengingat-ingat kapan persisnya saya tahu soal KonMari Method. Sepertinya tahun 2016, tepatnya saat melihat postingan seorang Kakak Leting di akun Instagramnya, yang tengah memperlihatkan hasil penataan pakaian di lemarinya dengan menggunakan KonMari method ini. Tapi memang, mungkin pada saat itu KonMari hanya terkenal sebatas “teknik melipat (pakaian)”. Padahal jauh daripada itu, ada banyak sekali teknik yang digagas oleh Marie Kondo perihal berbenah. Dan itu semua dia rangkum pada sebuah buku yang diberi judul The Life-changing Magic of Tidying Up.
 
IMG_20190203_220751[1]
 
 

Continue reading “Antara Marie Kondo, KonMari Method, dan The Life-changing Magic of Tidying Up”

Duhai diri: Laa takhaf, wa laa tahzan

Sejak dua bulan lalu, saya banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Pulangnya saya ke Banda Aceh untuk mensyukuri nikmat Allah, yang dengan kehendak-Nya, membuat saya bisa berkumpul bersama keluarga pada minggu ketiga bulan Ramadhan sampai minggu kedua di bulan Juni.

Ramadhan adalah bulan favorit saya, maka nggak habis-habis saya berpikir betapa saya harus banyak mensyukuri nikmat Allah yang satu ini: ya, di bulan favorit, berkumpul dengan orang-orang favorit, di tempat favorit, dalam suasana yang favorit pula.

Selama berada di rumah, seringnya saya ingin menangis saking bersyukurnya. Bisa (setidaknya mencoba membantu) meringankan pekerjaan rumah yang selama ini Mamak lakukan sendiri, bisa (setidaknya mencoba) membantu kesulitan-kesulitan Ayah yang terkait dengan laptop dan dokumen-dokumen beliau, bisa banyak berbicara dengan Ainal secara langsung. Duh… Rasa ingin menangis itu nggak cuma menyiratkan rasa syukur, tapi juga rasa haru sekaligus rasa takut.

Continue reading “Duhai diri: Laa takhaf, wa laa tahzan”

Maaf, saya bukan teman yang baik.

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi membuat masalah. Ada seorang teman yang meminta bantuan saya, namun saya tolak dengan alasan yang mungkin akan terkesan sangat egois ataupun terlalu mementingkan diri sendiri. Alasan itu adalah: saya sedang perlu waktu untuk sendiri, untuk menenangkan diri sendiri, dan Qadarullaah, saat itu saya juga sedang tidak enak badan. Terdengar banyak banget bacotnya sih, memang. Tapi, saat itu saya benar-benar tidak bisa memenuhi permintaannya—walaupun, permintaan dia sangatlah simpel.

Continue reading “Maaf, saya bukan teman yang baik.”

Setelah Ramadhan Berakhir..

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Saya nggak mengerti dengan apa yang terjadi kepada saya sekarang. Entah karena konspirasi alam semesta –melalui turunnya hujan deras tanpa petir– yang membuat saya seharian ini jadi mellow, atau mungkin karena hal lain… saya nggak mengerti.

Kemarin, tampaknya (saya dan) semuanya baik-baik saja. Saya memang merasa sedikit sedih karena harus menghabiskan hari Lebaran bersama keluarga, tapi itu nggak berlangsung lama. Karena, Allaah, dengan sifat-Nya Yang Maha Penyayang, nggak membiarkan saya sendirian. Dia mengirimkan teman-teman, yang kemudian saya anggap mereka sebagai keluarga baru, untuk menghabiskan waktu Lebaran bersama. Hari Lebaran, walau harus dilalui di tempat “orang” dan jauh dari keluarga, terasa tetap menyenangkan bersama mereka. Buka puasa di hari-hari terakhir Ramadhan, sibuk mempersiapkan hidangan-hidangan khas Lebaran bersama teman di malam takbiran, kemudian menyantap hidangan tersebut di pagi harinya, berjalan-jalan mengitari kota ini… sepertinya nggak ada yang salah, bukan, dengan itu semua?

Lantas? Entahlah, saya pun nggak mengerti. Saya nggak mengerti: kenapa sekarang, saya menghabiskan waktu yang saya punya hanya untuk merenung seharian? Entah apa pun yang saya renungkan. Padahal, ada segudang hal lain yang menunggu untuk saya kerjakan, seperti: mencuci baju dan sepatu, mengerjakan tugas, mencicil belajar untuk UAS, et cetera.

Ada segelintir perasaan, yang sulit sekali dijelaskan dengan pasti apa perasaan itu. Apakah itu perasaan senang, ataukah sedih? Rindu ataukah kehilangan? Entahlah. Saya hanya mampu menggunakan kata bitter untuk mewakili kesemuanya itu. Ya, bitter.

Hanya satu clue yang saya punya soal perasaan ini. Perasaan ini, bukanlah sesuatu yang baru. Perasaan ini tidak asing, sudah begitu familiar. Perasaan ini, walau mungkin tidak persis sama jika ditelaah dari berbagai aspek, mirip dengan perasaan ketika saya dan keluarga harus ikut ke Bandara untuk mengantarkan Abang kembali ke Jakarta. Perasaan ini, mirip dengan perasaan ketika saya menyapu dedaunan kering yang jatuh di halaman depan rumah lalu saya melihat satu lorong Jalan Tengku Dibitai yang kembali sepi –hanya ada warga aslinya saja, yang pada umumnya sudah berusia lanjut semua. Dan perasaan ini, kerap terjadi setelah Ramadhan berakhir.

Shouldn’t you be happy? Because everyone does.

Shouldn’t you be happy? Because this is Eid Al-Fitr day.

Continue reading “Setelah Ramadhan Berakhir..”

Not-vegan-friendly Pizza (Without Oven)

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Jadi, sudah beberapa hari ini, halaman Facebook saya dihiasi oleh resep pizza (yang datangnya dari murabbiah saya sewaktu di Aceh dulu). Saya kagum melihat pizza buatan beliau yang bener-bener mirip dengan buatan salah satu restoran cepat saji yang terkenal soal pipizzaan (apa coba ini bahasanya, wkwk).

Mungkin saya ketularan semangat beliau yang kayanya bahagia banget dengan pizza buatannya, maka saya pun jadi kepingin membuat pizza juga. Saya pun sudah men-set-up apa-apa saja yang dibutuhkan. Resep, peralatan, dan lain sebagainya.

Ah iya, awalnya, karena saya sedang strict banget terhadap diri saya sendiri (saya bertekad kepada diri saya, saya nggak boleh jajan. Saya harus makan proper food), saya berencana membuat pizza yang vegan friendly dan glutten free. Tapi, berhubung bahan penggantinya susah didapatkan, dan saya takut zonk, maka saya mencoba resep pizza yang lumrahnya saja dulu.

Saya melakukan dua kali percobaan. Percobaan pertama: tidak gagal, namun tidak juga begitu sakses. Pizza-nya masih agak bantet, itu saja masalahnya. Tapi, Alhamdulillaah, percobaan kedua sepertinya lebih baik. Karena saya melihat kedua orang teman yang saya jadikan korban untuk mencicipi pizza buatan saya, nampak lebih lahap dari sebelumnya (pada pizza hasil percobaan pertama). Hehe.

Continue reading “Not-vegan-friendly Pizza (Without Oven)”