Laki-laki, Perempuan, dan kompleksitas hubungan diantara keduanya.

Beberapa hari yang lalu, saya iseng menggunakan fitur question pada story Instagram. Sebenarnya sudah lama kepingin pakai fitur itu, pingin seperti selebgram atau artis-artis gitu, ditanyain sama followers-nya, hahaha (jangan ditiru, ini duniawi hehe).

Surprisingly, ada juga lho yang nanya-nanya. Nggak banyak memang, tapi ada hehe. Pertanyaannya pun beragam; ada yang nanya kapan saya bakal ke Bandung lagi-lah, ada yang
nanya kenapa saya bisa suka sama Fauzi Baadila-lah, ada yang nanya apakah saya sudah punya calon-lah, bahkan ada juga yang nanya sehari saya tidur berapa jam.

Diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada satu pertanyaan yang menurut saya menarik. Kalau nggak salah pertanyaan itu kira-kira begini bunyinya,“Kenapa cuma perempuan aja yang boleh follow kamu?

Continue reading “Laki-laki, Perempuan, dan kompleksitas hubungan diantara keduanya.”

Advertisements

Duhai diri : Laa takhaf, wa laa tahzan

Sejak dua bulan lalu, saya banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Pulangnya saya ke Banda Aceh untuk mensyukuri nikmat Allah, yang dengan kehendak-Nya, membuat saya bisa berkumpul bersama keluarga pada minggu ketiga bulan Ramadhan sampai minggu kedua di bulan Juni.

Ramadhan adalah bulan favorit saya, maka nggak habis-habis saya berpikir betapa saya harus banyak mensyukuri nikmat Allah yang satu ini: ya, di bulan favorit, berkumpul dengan orang-orang favorit, di tempat favorit, dalam suasana yang favorit pula.

Selama berada di rumah, seringnya saya ingin menangis saking bersyukurnya. Bisa (setidaknya mencoba membantu) meringankan pekerjaan rumah yang selama ini Mamak lakukan sendiri, bisa (setidaknya mencoba) membantu kesulitan-kesulitan Ayah yang terkait dengan laptop dan dokumen-dokumen beliau, bisa banyak berbicara dengan Ainal secara langsung. Duh… Rasa ingin menangis itu nggak cuma menyiratkan rasa syukur, tapi juga rasa haru sekaligus rasa takut.

Continue reading “Duhai diri : Laa takhaf, wa laa tahzan”

Maaf, saya bukan teman yang baik.

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi membuat masalah. Ada seorang teman yang meminta bantuan saya, namun saya tolak dengan alasan yang mungkin akan terkesan sangat egois ataupun terlalu mementingkan diri sendiri. Alasan itu adalah: saya sedang perlu waktu untuk sendiri, untuk menenangkan diri sendiri, dan Qadarullaah, saat itu saya juga sedang tidak enak badan. Terdengar banyak banget bacotnya sih, memang. Tapi, saat itu saya benar-benar tidak bisa memenuhi permintaannya—walaupun, permintaan dia sangatlah simpel.

Continue reading “Maaf, saya bukan teman yang baik.”

Not-vegan-friendly Pizza (Without Oven)

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Jadi, sudah beberapa hari ini, halaman Facebook saya dihiasi oleh resep pizza (yang datangnya dari murabbiah saya sewaktu di Aceh dulu). Saya kagum melihat pizza buatan beliau yang bener-bener mirip dengan buatan salah satu restoran cepat saji yang terkenal soal pipizzaan (apa coba ini bahasanya, wkwk).

Mungkin saya ketularan semangat beliau yang kayanya bahagia banget dengan pizza buatannya, maka saya pun jadi kepingin membuat pizza juga. Saya pun sudah men-set-up apa-apa saja yang dibutuhkan. Resep, peralatan, dan lain sebagainya.

Ah iya, awalnya, karena saya sedang strict banget terhadap diri saya sendiri (saya bertekad kepada diri saya, saya nggak boleh jajan. Saya harus makan proper food), saya berencana membuat pizza yang vegan friendly dan glutten free. Tapi, berhubung bahan penggantinya susah didapatkan, dan saya takut zonk, maka saya mencoba resep pizza yang lumrahnya saja dulu.

Saya melakukan dua kali percobaan. Percobaan pertama: tidak gagal, namun tidak juga begitu sakses. Pizza-nya masih agak bantet, itu saja masalahnya. Tapi, Alhamdulillaah, percobaan kedua sepertinya lebih baik. Karena saya melihat kedua orang teman yang saya jadikan korban untuk mencicipi pizza buatan saya, nampak lebih lahap dari sebelumnya (pada pizza hasil percobaan pertama). Hehe.

Continue reading “Not-vegan-friendly Pizza (Without Oven)”

Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)

Orang bilang, Bandung tidak sedingin dulu lagi.

Tapi, ketika waktu Subuh datang, dimana udara pagi saat itu masih segar-segarnya–belum tercemar oleh asap kendaraan bermotor, Bandung tetap saja terasa dingin. Saya rasa ini pun berlaku untuk seluruh daerah. Daerah dengan suhu yang lebih tinggi sekalipun, seperti Aceh. Makanya, sebagai pecinta cuaca dingin, saya sangat mengagumi waktu Subuh.

Alhamdulillaah, walau semalam saya larut berjam-jam dalam obrolan (nostalgia) bersama Nia dan Vera, saya masih diberikan kesempatan oleh Allaah SWT untuk bangun di kala Subuh menyapa. Karena hanya saya saja yang pada saat itu tidak berhalangan untuk shalat, maka saya langsung bergegas ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Segar. Sejuk. Menenangkan. Saya shalat, lalu setelahnya, saya termenung. Rasanya, masih belum percaya saja kalau akhirnya saya benar-benar kembali ke kota ini.

Bandung.

Eh, tapi, ini memang benar adanya. Memang nyata. Continue reading “Bandung; The Feeling of The First Love (Day II)”

Bandung; The Feeling of The First Love (Day I)

img_20170122_1530151

Masih ingat di memori saya, sekitar sembilan tahun yang lalu, saya menangis hebat meninggalkan kota ini. Dengan earphone yang terus melantunkan lagu-lagu sedih, air mata saya terus mengalir… dan mungkin, itulah yang membuat Abang saya–yang waktu itu duduk tepat di samping saya–keheranan. Mungkin dia pikir, “Kenapa harus sesedih itu?” atau “Sesedih itukah?” atau justru “Lebay amat ini anak”. Tapi, saya seolah nggak peduli dengan pemikiran orang lain. Yang saya tahu, saya sedih, sedih sekali… meninggalkan kota tempat saya bertumbuh dan berkembang menjadi remaja tanggung.

Bandung.

Masih ingat juga di memori saya, betapa saya tidak mau berdamai sedetik pun dengan keadaan. Istilahnya, baiklah, mungkin raga saya pada saat itu berada di tempat baru sepenuhnya, tapi di sisi lain, jiwa saya tidak disitu. Karena yang saya pikirkan, hanya Bandung, Bandung, dan Bandung. Saya sibuk mengecek keadaan teman-teman saya di Bandung melalui akun-akun jejaring sosial mereka. Saya sibuk menelepon mereka. Mata saya tidak pernah lepas dari handphone–bahkan sampai larut malam sekalipun–hanya untuk mengecek apakah pesan singkat saya di Yahoo Messenger sudah mereka balas atau belum.

Dan masih ingat di memori saya, dimana kala itu, saya benar-benar memperjuangkan kebebasan saya untuk kembali ke Bandung. Ketika saya lulus SMA, saya meminta izin Mama untuk melanjutkan kuliah kembali ke Bandung. Namun, Mama bilang tidak. Campur aduk rasanya. Sedih, ingin memberontak, tapi apa daya? Saya tidak punya kemampuan untuk memberontak.

Setersiksa itukah? Mungkin tidak. Hanya saja, saya, dan pemikiran saya, sifat saya, serta semua yang ada pada diri saya ini terlalu naif. Dan mungkin, saking naifnya, sampai-sampai membuat Ayah saya (mungkin) merasa kasihan, lantas beliau mengiming-imingi saya dengan janji manis seperti “Kita akan ke Bandung setelah Kakak lulus kuliah”.

Hanya saja, saya dan Bandung itu bagai dua hal yang memang tidak meant to be. Ada saja yang membuat saya gagal untuk kembali ke Bandung. Pernah, saya ingat, suatu kali, Ayah sudah merencanakan bahwa kami sekeluarga akan pergi ke Bandung untuk menghadiri wisuda Abang. Semua sudah okay–sudah sedikit ada harapan bagi saya untuk kembali bertemu dengan kota kesayangan itu. Tapi, tiba-tiba… salah seorang dosen mengadakan ujian di hari yang awalnya akan menjadi hari keberangkatan saya dan keluarga ke Bandung. Terpaksa, dengan-sangat-terpaksa-sekali, saya harus rela untuk ditinggal Ayah, Mama, dan Adek. Mirisnya, ketika saya sudah mengorbankan hari yang saya nanti-nanti itu, sang dosen malah membatalkan agenda ujian.

Saya dan Bandung memang tidak akan pernah bertemu.

Saya pun tidak tahu sebenarnya apa sih yang membuat saya begitu ingin kembali ke Bandung? Kalau ada yang bertanya, saya benar-benar tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Lagipula, ketika saya pulang, belum tentu akan ada yang mau menemui saya. Jangankan ada yang mau, bahkan untuk taraf mengingat saya saja, mungkin tidak ada.

=====================================================================

“Mut, kamu ngerasa sedih nggak sih, kalau ke Bandung tuh?”

Continue reading “Bandung; The Feeling of The First Love (Day I)”